Image
0

“Escape from Routine Episode The Trans”

Ini adalah lebaran kali kedua saya tidak berada di kampung halaman, di rumah yang dulu menjadi kediaman kedua orang tua saya dan sekaligus tempat saya dibesarkan. Namun kali ini saya melewatkannya bukan karena suatu tugas yang mengharuskan saya berada jauh dari negeri ini, namun semua  karena saya memang sengaja ingin mencoba sesuatu yang baru, sesuatu yang berbeda di tahun ini.

IMG-20130808-02369

Lebaran kali ini saya menginap di sebuah hotel bintang 6 di Kota Bandung  yang jaraknya hanya sekitar kurang-lebih 35 KM dari kampung halaman saya. Room rate-nya memang mahal kalo menurut saya, mulai dari Rp. 2.500.000,- , Rp. 3.000.000,- , Rp. 8.000.000,- sampai president suite seharga Rp. 25.000.000,- per malam (diluar tax  dan room service 21%) . Saya tentunya  memilih kamar dengan harga yang paling murah, sebenarnya harga yang dibayarkan cukup untuk tiket pesawat ekonomi PP Bandung~Kuala Lumpur plus menginap 2 malam di hotel bintang 3, namun kali ini entah mengapa saya lagi cinta Indonesia banget. Saya sampai di hotel itu bersama ponakan saya sekitar pukul 3 sore, foto diatas adalah pemandangan di lobby hotel, tidak menyangka, cukup ramai ternyata, saya pikir hanya kami yang kurang kerjaan dan kaya anak hilang menghabiskan malam takbiran dan lebaran di hotel.

1

Di depan lobi terdapat tangga menuju lantai dua dimana ball room berada, bagus banget,  kalau saya masih kecil pasti akan membayangkan berpakaian cinderela atau  dan berjalan di tangga tersebut.

IMG-20130808-02367

Di lobby kita diterima oleh staff front office yang super ramah, setelah verifikasi data dan menandatanganinya lalu bell boy mengantarkan kami ke kamar nomor 1618 yang berada di lantai 16. Pakai Koper segala, nginep semalem pun juga (biar kelihatan serius jalan-jalannya).

IMG_2951

Pas  pintu kamarnya dibuka… wahhh… enakeun bangeud.. heuheu.. kebetulan kamarnya menghadap langsung trans studio mall.

IMG_2957

King size bad  yang empuk dan nyaman.. seperti biasa lampu dan curtain yang bsa dikendalikan semua sembari baring 😀 (katro). Mini bar dilengkapi gelas-gelas yang super lengkap dan minuman dari hari harga 50 ribu sampai 600 ribu rupiah ada (saya sih minumnya yg with compliment aja.. wew..).

IMG_2946

Ini kamar mandinya, 3 ruang terpisah, antara bath tab, ruang closet dan ruang shower, showernya bagus dari langit-langit keluarnya (ndeso.. ha ha ha)

IMG-20130808-02365

2

Sementara dinning room berada di lantai 3 bersama dengan kolam renang. Makanan yang disajikan tidak ada yang istimewa menurut saya, tidak begitu berbeda dengan hotel bintang 5 lainnya yang saya pernah mampir.

IMG_1939

Karena hari itu puasa terakhir, saya pun mengundang keponakan-keponakan yang lain untuk mampir dan buka bareng. Sekalian bisa foto-foto, kapan lagi katanya mereka.

IMG_2021

Sampai-sampai foto-foto di kamar mandi dan pake kimono yang disediakan *tepok jidat*.

IMG_2105

Nih.. buka bersamanya di fast food aja yaaa.. sekitaran TSM jangan di hotel :D, jaraknya tidak lebih dari 5 menit jalan kaki koq (gaya :p).

IMG_3060

Nih kerjaannya dd, terus narsis disaat saya sudah ditonton TV alias zzzzzz…..

Pagi harinya kita sholat Ied di halaman TSM dibawah roller coaster, ga berasa di bandung, serasa di kota lain, karena biasanya saat sholat ied pasti hampir setengahnya adalah orang yang saya kenal, namanya di kampung, ini kita tidak ada satupun yang kita kenal.

sehabis check out jalan-jalan dulu di TSM, cari oleh-oleh buat orang rumah, beli tas baru (p:) trus pulang dehh.. macet-macetan kaya orang mudik gituh..

Well, after all, we had a good time. Alhamdulillah, sangat bersyukur atas kesehatan, kegembiraan dan rezeki yang Allah berikan.

IMG_2909hhmm.. *gatel tenggorokan .. itu saya.. 😀

Image
0

“ESCAPE FROM ROUTINE” episode Pangalengan

zbawa ikan

Hari sabtu kemarin saya melarikan diri dari rutinitas untuk bermalam di sebuah hotel kecil yang cukup nyaman dengan harga yang cukup murah pula Rp. 225.000,- /malam untuk kamar standard, sudah termasuk sarapan pagi alakadarnya yaitu segelas teh hangat dan sepiring nasi goreng plus telor mata sapi. Namanya Hotel Puri, ruangan kamarnya tidak terlalu besar, tidak ada pendingin ruangan karena memang suhu udara di daerah tersebut  tidak memerlukan AC dan yang terpenting kamar mandinya cukup bersih, juga terdapat air panas, that’s all I need.

ujung sana

Daerah yang saya kunjungi yaitu  berada sekitar 45 KM sebelah selatan Kota Bandung,  pelarian saya kali ini selain untuk menikmati suasana baru, mengambil gambar dan juga mengunjungi seorang teman untuk belajar beberapa teknik pengobatan pada hewan besar, ia adalah salah satu dokter hewan perempuan yang mendedikasikan waktu, tenaga dan pengetahuannya untuk membantu peternak sapi perah di wilayah Pangalengan.

Pekerjaannya mungkin jauh dari kemewahan, hingar bingar ataupun penghasilan tinggi dan jenjang karier yang menjanjikan, namun itulah dia, sangat mencintai pekerjaanya, senyuman dan kebahagian yang terpancar dari wajah peternak ketika sapi yang menjadi sumber penghasilan keluarganya bisa sembuh dari penyakitnya menjadi bayaran yang tak ternilai oleh rupiah.

zgalau

Disela-sela kegiatan kami, memenuhi panggilan beberapa peternak yang bermasalah dengan ternaknya, saya mengambil beberapa photo, diantaranya di daerah Situ Cileunca, Perkebunan Malabar PTPN VIII dan Unit Geothermal, coba lihat photo-photonya, bagus-bagus bukan ?

rumah tua

Menurut sejarah Situ Cileunca merupakan kawasan pribadi seorang warga Belanda bernama Kuhlan yang dulu menetap di Pangalengan. Dalam pembangunannya Situ Cileunca dilaksanakan dalam waktu yang cukup lama yaitu selama 7 tahun ( 1919 – 1926 ) dengan membendung aliran sungai kali Cileunca, sehingga terbuatlah sebuah situ yang akhirnya menjadi sebuah bendungan yang sekarang diberi nama Dam Pulo. Uniknya dalam pembangunan Situ Cileunca ini berdasarkan cerita para orang tua dahulu situ ini dibangun oleh banyak orang tetapi tidak menggunakan cangkul tetapi mengunakan halu. Pembangunan Situ Cileunca ini dikomandoi oleh dua orang pintar yakni juragan Arya dan Mahesti.senja

Pada zaman Kolonial Belanda Situ Cileunca digunakan sebagai salah satu sumber listrik bagi kota Bandung, selain itu juga debit airnya juga digunakan sebagai cadangan sumber air bersih bagi kota Bandung dikala itu dengan kapasitas air 9.89 juta M3.

kutambatkan

Photo-photo ini diambil tanpa menggunakan teknik-teknik photografi tertentu, karena hobi saya mengambil gambar tidak didukung oleh pengetahuan yang seharusnya, hanya sekedar keinginan hati membagi keindahan yang tertangkap oleh sepasang mata ini.

menanti

Yang dibawah ini, adalah Sari dokter sapi perah dengan suaminya Agus  dokter for chicken yang mau saja diarahkan gaya untuk diambil photo oleh dokter sapi potong yang berlaga bak photografer profesional.pwedNah, yang ini saya dan Sari di depan Geothermal Facility sebelum pamitan pulang, biasa… belum pas rasanya kalau saya-nya ga muncul .. heuheu..

is

Sources :

http://www.bandungkab.go.id/arsip/2265/situ-cileunca

http://www.jabarprov.go.id/index.php/subMenu/878

Image
4

“Peninggalan Kerajaan Gowa di Museum Balla Lompoa”

Hari terakhir di Makasar diisi dengan mengunjungi Museum Balla Lompoa di Jalan  Hasannudin, Sanguminasa, Gowa.

IMG_0786

Menurut Acok The Tour Guide, Museum ini sebelumnya adalah bangunan Kerajaan Gowa yang dibangun pada tahun 1936, yaitu pada masa pemerintahan Raja Gowa ke-31, I Mangngi-mangngi Daeng Matutu. Balla Lompoa itu sendiri dalam bahasa setempat berarti rumah besar.

BALA LOMPOA

Disini tersimpan berbagai peninggalan bersejarah dari Kerajaan Gowa seperti makhkota raja yang terbuat dari emas dengan berat lebih dari 1,7 kg, kebayang beratnya ya jadi raja jaman itu, sehari pun sepertinya kalau saya sendiri tak sanggup kalau ada sesuatu diatas kepala seberat itu. Lihat photo dibawah, cantik bukan?

IMG_0809

Di museum ini disimpan juga peralatan perang, peralatan dapur, pakaian dan naskah-naskah penting lainnya.

IMG_0806

Kalau saya tidak salah catat, Raja Gowa pertama yang memeluk agama islam adalah Sultan Alaudin, ayah dari Sultan Hasannuddin, yaitu pada abad ke 17. Tersimpan pula dua buah al-quran tulisan tangan yang dibuat pada tahun 1848

IMG_0808

Nah, disini anda juga dapat mencoba pakaian khas tradisional Makassar dan berfoto, menurut Acok warna pakaian bodo yang ada disitu ada artinya masing-masing. Warna oranye adalah dipakai untuk yang masih belia, warna merah untuk gadis, warna hijau untuk wanita muda yang telah menikah, warna ungu untuk janda dan warna biru untuk yang sudah tidak muda lagi, begitu katanya.

IMG-20130303-01972

Dibawah ini foto Acok yang tengah semangat menjelaskan mengenai silsilah raja-raja Gowa.

IMG_0795

Nah, kalau yang ini kata Inne teman saya adalah foto Siti Nurbaya lagi menanti Datuk Maringgi, lho… koq bisa .. itu kan di Sumbar yaaaa….. ini mungkin We Cudai yang lagi menanti Saweragading.. hehehe…. dasar suka eksis…

IMG-20130303-01975

Image
2

“Melihat Padang Gembala DESA BILA”

IMG_0665

Kunjungan berikutnya yaitu : PT Berdikari Union Livestock (BULI) , sebuah BUMN yang bergerak di bidang peternakan yang merupakan anak perusahaan dari PT Berdikari (Persero), berlokasi di Desa Bila, Kecamatan Pitu Riase, Kabupaten Siddenreng Rappang, Provinsi Sulawesi Selatan.

IMG_0663

Perusahaan ini berdiri di areal yang cukup luas , yaitu 6.221 ha dengan jumlah karyawan sekitar 180 orang. Sebenarnya perusahaan ini sudah lama didirikan, pertama kali didirikan yaitu pada tahun 1971. Saat ini populasi ternak sapi yang ada lebih dari 7.500 ekor dengan ras utama yang dibiakan disini yaitu Brahman Cross. Sistem pemeliharaan ternak yaitu di gembalakan dengan sistem perkawinan utama melalui INKA.

IMG_0616

Tim diterima oleh Direktur dari PT Berdikari Union Livestock (Buli) yaitu Ibu Ria yang baru menjabat sebagai direktur di awal tahun 2013. Seorang wanita muda yang dengan sangat lugas dan penuh percaya diri menjelaskan konsep-konsep yang tengah dikerjakannya, memancarkan energi positif baru bagi tempat ini. Pimpinan baru tentunya berarti ide-ide baru yang siap direalisasikan, menurutnya saat ini ia tengah membuat padang gembala yang dibagi per 3.000 m2, yang cukup diisi oleh 150 ekor sapi. Disekitarnya akan dikelilingi oleh tanaman sorgum seluas dan rumput gajah. Sebagai sumber air dibuatkan satu buah bak penampungan air. Saat ini tengah dikembangkan tanaman sorgum pada lahan seluas 3.200 ha, selain sorgum juga dikembangkan tanaman jagung dan rumput gajah.

IMG_0585

Selain padang gembala, tempat ini juga memiliki sistem kandang yang dipergunakan untuk sapi-sapi yang dipandang perlu mendapat perhatian atau perlakuan khusus.

IMG_0636

Kegiatan yang melibatkan masyarakat sekitar peternakan yaitu pemberian ternak kepada 300 KK sebanyak 10 ekor sapi bunting per KK, untuk sapi kelahiran ke-2 harus dikembalikan ke PT. Buli, sedangkan anak pertama, ketiga dan selanjutnya serta induk menjadi milik peternak dengan catatan penjualan haruslah diutamakan ke PT. Buli kembali. Ada juga yang diberikan ternak berumur 8~15 bulan sebanyak 15 ekor per KK.

Dibawah ini, kawan kami dari Bidang Produksi Ternak dan Perencanaan Program tengah berdiskusi dengan Ibu Ria. Menurut Ibu Ria, ia selalu bekerjasama dengan profesor dan tenaga ahli diperguruan tinggi dalam menentukan strategi pengembangan yang akan diterapkannya.

IMG_0656

Well done and good luck Ibu Ria.. Terima kasih karena kita sudah belajar banyak dari anda dan tempat anda.

Image
0

“Menengok Showroom Sapi di Kabupaten Barru”

Kabupaten Barru berjarak 100 km dari Kota Makasar, terdiri dari 7 kecamatan, 41 desa dan 13 kelurahan. Menurut Kabid Produksi Ternak Kabupaten Barru, populasi sapi di Kabupaten Barru yaitu 60.784 ekor, dengan skala kepemilikan rata-rata sekitar 3,7 ekor. Kabupaten Barru selain merupakan wilayah pemurniaan sapi Bali yang ditetapkan melalui Perda juga merupakan daerah uji performens yang sudah memasuki tahun ke-4 dan merupakan pilot project BI untuk pengembangan kluster serta pewilayahan sumber bibit.

IMG_0510

Kita diajak untuk melihat salah satu showrom sapi di Kelurahan Lipukasi, kecamatan Tanete Rilau yaitu “showroom Duajeng II” . Konsep showroom ini  digunakan disini selain menjadi tempat transaksi ternak  juga  merupakan suatu usaha untuk memacu sistem pemeliharaan ternak di wilayah ini ke arah intensifikasi, yang tadinya dari penggembalaan menjadi sistem pengandangan. Hal ini berkaitan dengan usaha pemerintah daerah terkait dalam meningkatkan populasi ternak melalui optimalisasi Inseminasi Buatan maupun INKA dan peningkatan rekording. Didalam showroom ini minimum populasi ternak yang dikandangkan adalah 10 ekor. Showroom ini ada yang milik pribadi dan juga kelompok ternak. Showroom ini juga memudahkan pemerintah dalam introduksi teknologi pengembangan dan pola-pola pemeliharaan maupun pmbibitan yang lebih baik

IMG_0503Dibawah adalah foto kami bersama teman-teman, kebetulan bis tidak dapat lewat ke salah satu tempat yang kami kunjungi sehingga harus naik mobil kecil.

IMG_0530hhmmm… ga afdol sepertinya kalau tidak muncul foto penulis disetiap tulisannya … ha ha ha…

Image
0

“Mencicipi Sop Konro Ratulangi”

Sop Konro adalah makanan khas dari Sulawesi Selatan, olahan daging iga tradisonal suku Bugis dan Makasar, tidak lengkap rasanya jika bermalam di Kota Makasar tanpa meluangkan waktu untuk mencicipi Sop Konro. Iga yang digunakan dalam sop konro adalah iga sapi atau kerbau. Warna kuahnya bening kehitaman, sangat sedap disantap malam hari, terutama jika ditambahkan sedikit sambal dan jeruk lemon.

IMG-20130228-01922

Rumah makan yang kami kunjungi malam itu yaitu RM. Sop Konro Ratulangi yang terletak tidak  jauh dari Hotel Horison tempat kami tinggal, tepatnya yaitu di sekitar jalan Sam Ratulangi Makasar.

IMG-20130228-01917

Ada tiga jenis : sop konro biasa, konro bakar bumbu kacang dan konro rica-rica. Kami mencoba sop konro dan konro bakar, iga-nya luar biasa besar-besar, artinya berasal dari sapi yang sudah pasti cukup umur untuk dipotong, walau demikian dagingnya sangat empuk dan lunak, bumbunyapun sangat meresap. Saya pribadi lebih menyukai sop konro ketimbang konro bakar bumbu kacang, karena menurut saya bumbu kacangnya terlampau manis, saya takut jadi terlalu manis nantinya *weww*.

IMG-20130228-01920

Image
0

“Berpose Sebentar di Heritage Hotel Toraja”

IMG_0670Ini adalah kali kedua saya mengunjungi Tanah Toraja, tepatnya Toraja Utara, Sulawesi Selatan. Membutuhkan 8-9 jam perjalanan dari Kota Makasar, melewati 6 kabupaten, yaitu : Maros, Pangkep, Barru, Pare-Pare, Sidrap dan Enrekang. Perjalanan yang lumayan melelahkan, namun sepanjang jalan tidak membosankan memang, kita dapat menikmati keindahan alam nusantara, luar biasa, Subhanalloh, syukur Alhamdulillah saya dilahirkan di bumi Indonesia ini.

IMG_0671

Kami bermalam di Heritage Hotel yang pemandangannya juga luar biasa indah, beruntung sekali dipagi hari sebelum memulai aktifitas tour dapat berpose ria di sekitar hotel, boleh dong … 😀

h1Juice terong belanda yang disajikan di ruang makan tempat kami sarapan memang luar biasa menyegarkan, meski semalam tiba pukul 01.30 malam namun dapat membuat kami di pagi hari cukup bertenaga untuk melakukan sesi pemotretan :p

IMG_0702“Mumpung ga ada anak-anak” begitu katanya ibu-ibu, biasanya dikomplen anaknye kali ye kalo centil .. hahaha… kesian…