Image
4

“Peninggalan Kerajaan Gowa di Museum Balla Lompoa”

Hari terakhir di Makasar diisi dengan mengunjungi Museum Balla Lompoa di Jalan  Hasannudin, Sanguminasa, Gowa.

IMG_0786

Menurut Acok The Tour Guide, Museum ini sebelumnya adalah bangunan Kerajaan Gowa yang dibangun pada tahun 1936, yaitu pada masa pemerintahan Raja Gowa ke-31, I Mangngi-mangngi Daeng Matutu. Balla Lompoa itu sendiri dalam bahasa setempat berarti rumah besar.

BALA LOMPOA

Disini tersimpan berbagai peninggalan bersejarah dari Kerajaan Gowa seperti makhkota raja yang terbuat dari emas dengan berat lebih dari 1,7 kg, kebayang beratnya ya jadi raja jaman itu, sehari pun sepertinya kalau saya sendiri tak sanggup kalau ada sesuatu diatas kepala seberat itu. Lihat photo dibawah, cantik bukan?

IMG_0809

Di museum ini disimpan juga peralatan perang, peralatan dapur, pakaian dan naskah-naskah penting lainnya.

IMG_0806

Kalau saya tidak salah catat, Raja Gowa pertama yang memeluk agama islam adalah Sultan Alaudin, ayah dari Sultan Hasannuddin, yaitu pada abad ke 17. Tersimpan pula dua buah al-quran tulisan tangan yang dibuat pada tahun 1848

IMG_0808

Nah, disini anda juga dapat mencoba pakaian khas tradisional Makassar dan berfoto, menurut Acok warna pakaian bodo yang ada disitu ada artinya masing-masing. Warna oranye adalah dipakai untuk yang masih belia, warna merah untuk gadis, warna hijau untuk wanita muda yang telah menikah, warna ungu untuk janda dan warna biru untuk yang sudah tidak muda lagi, begitu katanya.

IMG-20130303-01972

Dibawah ini foto Acok yang tengah semangat menjelaskan mengenai silsilah raja-raja Gowa.

IMG_0795

Nah, kalau yang ini kata Inne teman saya adalah foto Siti Nurbaya lagi menanti Datuk Maringgi, lho… koq bisa .. itu kan di Sumbar yaaaa….. ini mungkin We Cudai yang lagi menanti Saweragading.. hehehe…. dasar suka eksis…

IMG-20130303-01975

Advertisements
Image
2

“Melihat Padang Gembala DESA BILA”

IMG_0665

Kunjungan berikutnya yaitu : PT Berdikari Union Livestock (BULI) , sebuah BUMN yang bergerak di bidang peternakan yang merupakan anak perusahaan dari PT Berdikari (Persero), berlokasi di Desa Bila, Kecamatan Pitu Riase, Kabupaten Siddenreng Rappang, Provinsi Sulawesi Selatan.

IMG_0663

Perusahaan ini berdiri di areal yang cukup luas , yaitu 6.221 ha dengan jumlah karyawan sekitar 180 orang. Sebenarnya perusahaan ini sudah lama didirikan, pertama kali didirikan yaitu pada tahun 1971. Saat ini populasi ternak sapi yang ada lebih dari 7.500 ekor dengan ras utama yang dibiakan disini yaitu Brahman Cross. Sistem pemeliharaan ternak yaitu di gembalakan dengan sistem perkawinan utama melalui INKA.

IMG_0616

Tim diterima oleh Direktur dari PT Berdikari Union Livestock (Buli) yaitu Ibu Ria yang baru menjabat sebagai direktur di awal tahun 2013. Seorang wanita muda yang dengan sangat lugas dan penuh percaya diri menjelaskan konsep-konsep yang tengah dikerjakannya, memancarkan energi positif baru bagi tempat ini. Pimpinan baru tentunya berarti ide-ide baru yang siap direalisasikan, menurutnya saat ini ia tengah membuat padang gembala yang dibagi per 3.000 m2, yang cukup diisi oleh 150 ekor sapi. Disekitarnya akan dikelilingi oleh tanaman sorgum seluas dan rumput gajah. Sebagai sumber air dibuatkan satu buah bak penampungan air. Saat ini tengah dikembangkan tanaman sorgum pada lahan seluas 3.200 ha, selain sorgum juga dikembangkan tanaman jagung dan rumput gajah.

IMG_0585

Selain padang gembala, tempat ini juga memiliki sistem kandang yang dipergunakan untuk sapi-sapi yang dipandang perlu mendapat perhatian atau perlakuan khusus.

IMG_0636

Kegiatan yang melibatkan masyarakat sekitar peternakan yaitu pemberian ternak kepada 300 KK sebanyak 10 ekor sapi bunting per KK, untuk sapi kelahiran ke-2 harus dikembalikan ke PT. Buli, sedangkan anak pertama, ketiga dan selanjutnya serta induk menjadi milik peternak dengan catatan penjualan haruslah diutamakan ke PT. Buli kembali. Ada juga yang diberikan ternak berumur 8~15 bulan sebanyak 15 ekor per KK.

Dibawah ini, kawan kami dari Bidang Produksi Ternak dan Perencanaan Program tengah berdiskusi dengan Ibu Ria. Menurut Ibu Ria, ia selalu bekerjasama dengan profesor dan tenaga ahli diperguruan tinggi dalam menentukan strategi pengembangan yang akan diterapkannya.

IMG_0656

Well done and good luck Ibu Ria.. Terima kasih karena kita sudah belajar banyak dari anda dan tempat anda.

0

“Pinisi, Kapal Layar Yang Perkasa”

Ketika tengah menanti pesawat di Bandara International Sultan Hasanudin, Makasar, Baso Wahyudin menghampiri saya “Mba ini, kelihatannya suka sejarah, sini mba saya ceritain sesuatu” katanya seraya mengajak saya melihat lebih dekat sebuah replika kapal yang terpajang di ruangan itu.

“Nah ini adalah kapal layar pinisi namanya mba, pernah dengar?” Sembari menunjuk kapal itu, sebuah replika kapal layar yang cantik berwarna putih dengan layar berwarna biru.

“Hehe.. Nggak tuh Om Acok” jawab saya tersipu. “Kapal layar pinisi adalah kapal layar yang berasal dari Sulawesi Selatan, sangat terkenal di seluruh dunia lho mba” tambahnya.

Mulailah Acok alias Baso Wahyudin menjelaskan dengan aksen Makasarnya yang kental, sementara saya mencatat poin-poin pentingnya di note bb saya.

Kapal layar pinisi pertama kali dibuat pada abad ke-14, oleh seorang putra mahkota Kerajaaan Luwu yang bernama Sawerigading, kapal ini kemudian dipakai untuk berlayar ke Negri Tiongkok olehnya.

Kapal layar pinisi memiliki dua tiang utama, mengandung philosofi bahwa dalam hidup selalu ada 2 pilihan yang masing-masing memiliki konsekuensi.

Keseluruhan memiliki 7 layar, yang mengandung arti mampu melewati 7 samudra. Sementara diujung depan terdapat 3 layar yang melambangkan hati, lisan dan pernikahan. Artinya seorang laki-laki bugis makasar ketika berada dimanapun selalu gunakan hati, diplomasi dan nikahi gadis setempat.
Itu sebabnya Saweri Gading menikahi We Cudai, putri dari Kerajaan Tiongkok mungkin ya.

Kapal pinisi seperti ini pula yang digunakan berlayar oleh Syeh Yusuf dari Makasar ke Australia, Banten dan Afrika Selatan.

Berapa lama kira-kira ya lama perjalanannya … Sementara pada tahun 1986 sebuah kapal yang diberi nama Phinisi Nusantara berlayar dari Indonesia mengarungi Samudra Pasifik ke Vancouper Kanada membutuhkan waktu lebih dari 2 bulan.

“Hmmm.. Luar biasa ya Om Acok, padahal hanya kapal layar sederhana, tapi mampu berlayar sejauh itu yaaa…. Makasih lho sudah diceritakan” ujar saya menutup cerita pinisi-nya Baso Wahyudin.

Image
0

“Menengok Showroom Sapi di Kabupaten Barru”

Kabupaten Barru berjarak 100 km dari Kota Makasar, terdiri dari 7 kecamatan, 41 desa dan 13 kelurahan. Menurut Kabid Produksi Ternak Kabupaten Barru, populasi sapi di Kabupaten Barru yaitu 60.784 ekor, dengan skala kepemilikan rata-rata sekitar 3,7 ekor. Kabupaten Barru selain merupakan wilayah pemurniaan sapi Bali yang ditetapkan melalui Perda juga merupakan daerah uji performens yang sudah memasuki tahun ke-4 dan merupakan pilot project BI untuk pengembangan kluster serta pewilayahan sumber bibit.

IMG_0510

Kita diajak untuk melihat salah satu showrom sapi di Kelurahan Lipukasi, kecamatan Tanete Rilau yaitu “showroom Duajeng II” . Konsep showroom ini  digunakan disini selain menjadi tempat transaksi ternak  juga  merupakan suatu usaha untuk memacu sistem pemeliharaan ternak di wilayah ini ke arah intensifikasi, yang tadinya dari penggembalaan menjadi sistem pengandangan. Hal ini berkaitan dengan usaha pemerintah daerah terkait dalam meningkatkan populasi ternak melalui optimalisasi Inseminasi Buatan maupun INKA dan peningkatan rekording. Didalam showroom ini minimum populasi ternak yang dikandangkan adalah 10 ekor. Showroom ini ada yang milik pribadi dan juga kelompok ternak. Showroom ini juga memudahkan pemerintah dalam introduksi teknologi pengembangan dan pola-pola pemeliharaan maupun pmbibitan yang lebih baik

IMG_0503Dibawah adalah foto kami bersama teman-teman, kebetulan bis tidak dapat lewat ke salah satu tempat yang kami kunjungi sehingga harus naik mobil kecil.

IMG_0530hhmmm… ga afdol sepertinya kalau tidak muncul foto penulis disetiap tulisannya … ha ha ha…

Image
0

“Mencicipi Sop Konro Ratulangi”

Sop Konro adalah makanan khas dari Sulawesi Selatan, olahan daging iga tradisonal suku Bugis dan Makasar, tidak lengkap rasanya jika bermalam di Kota Makasar tanpa meluangkan waktu untuk mencicipi Sop Konro. Iga yang digunakan dalam sop konro adalah iga sapi atau kerbau. Warna kuahnya bening kehitaman, sangat sedap disantap malam hari, terutama jika ditambahkan sedikit sambal dan jeruk lemon.

IMG-20130228-01922

Rumah makan yang kami kunjungi malam itu yaitu RM. Sop Konro Ratulangi yang terletak tidak  jauh dari Hotel Horison tempat kami tinggal, tepatnya yaitu di sekitar jalan Sam Ratulangi Makasar.

IMG-20130228-01917

Ada tiga jenis : sop konro biasa, konro bakar bumbu kacang dan konro rica-rica. Kami mencoba sop konro dan konro bakar, iga-nya luar biasa besar-besar, artinya berasal dari sapi yang sudah pasti cukup umur untuk dipotong, walau demikian dagingnya sangat empuk dan lunak, bumbunyapun sangat meresap. Saya pribadi lebih menyukai sop konro ketimbang konro bakar bumbu kacang, karena menurut saya bumbu kacangnya terlampau manis, saya takut jadi terlalu manis nantinya *weww*.

IMG-20130228-01920

Image
0

“Berpose Sebentar di Heritage Hotel Toraja”

IMG_0670Ini adalah kali kedua saya mengunjungi Tanah Toraja, tepatnya Toraja Utara, Sulawesi Selatan. Membutuhkan 8-9 jam perjalanan dari Kota Makasar, melewati 6 kabupaten, yaitu : Maros, Pangkep, Barru, Pare-Pare, Sidrap dan Enrekang. Perjalanan yang lumayan melelahkan, namun sepanjang jalan tidak membosankan memang, kita dapat menikmati keindahan alam nusantara, luar biasa, Subhanalloh, syukur Alhamdulillah saya dilahirkan di bumi Indonesia ini.

IMG_0671

Kami bermalam di Heritage Hotel yang pemandangannya juga luar biasa indah, beruntung sekali dipagi hari sebelum memulai aktifitas tour dapat berpose ria di sekitar hotel, boleh dong … 😀

h1Juice terong belanda yang disajikan di ruang makan tempat kami sarapan memang luar biasa menyegarkan, meski semalam tiba pukul 01.30 malam namun dapat membuat kami di pagi hari cukup bertenaga untuk melakukan sesi pemotretan :p

IMG_0702“Mumpung ga ada anak-anak” begitu katanya ibu-ibu, biasanya dikomplen anaknye kali ye kalo centil .. hahaha… kesian…

Image
3

“Melihat Kete Kesu Dari Dekat”

IMG_0726Berwisata ke Tanah Toraja tanpa berkunjung ke  Kete Kesu seperti berwisata ke Bandung tanpa ke Cihampelas. Kete Kesu merupakan cagar budaya yang terletak di kampung Bonoran, Kecamatan Sanggalangi, Toraja Utara. Sekitar 4 km atau 30 menit dari Rantepao pusat kota Toraja Utara.

IMG_0723Disini terdapat Tongkonan atau rumah adat Toraja yang berusia ratusan tahun dan juga makam tua yang berada di batu dan gua, konon kabarnya juga berusia lebih tua dari rumah adatnya itu sendiri.

Menurut Baso Wahyudin alias Acok, tour guide kami, jika orang toraja yang dulu berkepercayaan  Auk Todolong dan sekarang memeluk agama katolik meninggal maka keluarganya harus memotong paling sedikit 24 ekor kerbau. Mayat yang meninggal disimpan dulu dengan menggunakan pengawet alami sebelum keluarga dapat menyelenggarakan upacara pemakaman yang membutuhkan banyak biaya tersebut.

IMG_0748Untuk golongan atas di Toraja bahkan bisa memotong lebih dari 70 ekor kerbau plus kerbau belang, bisa dibayangkan berapa rupiah itu, mengingat 1 ekor kerbau belang saja bisa seharga 1 unit mobil Inova. Selain itu keluarga juga mengundang sanak keluarga dan handai taulan, belum lagi biaya untuk membuat lubang di batu yang  bisa mencapai 40 juta rupiah atau untuk membuat bangunan tertentu.

IMG_0730Sehingga nampak lebih meriah upacara pemakaman ketimbang upacara pernikahan, menurut Acok juga bahwa orang Toraja meyakini bahwa kematian adalah akhir dari kesusahan dunia dan memasuki kehidupan yang lebih menyenangkan, sehingga upacara pemakaman seolah seperti ungkapan rasa senang.

Masyarakat disekitar Kete Kesu terkenal dengan kemahirannya dalam seni ukir kayu, selain untuk ornamen rumah atau hiasan, mereka juga pandai membuat ukiran wajah seseorang yang telah meninggal atau disini mereka menyebutnya tau-tau, namun hanya yang berasal dari kalangan bangsawanlah yang akan dibuatkan patungnya jika meninggal dunia.

IMG_0736

Tanduk kerbau yang telah dipotong akan dipajang di depan tongkonan dan rahanya disimpan disamping tongkonan, hal ini konon menjadi penanda status sosial bagi pemiliknya.

IMG_0735

Nah, kalau ke Toraja, jangan lupa mampir Kete Kesu yaa !

 

 

Pictures by : Febby RNR