“Grave of The Fireflies”

imagesSebuah film yang menyentuh hati yang saya tonton di hari libur kemarin adalah Grave of  The Fireflies. Film animasi yang diadaptasi dari sebuah novel semi-autobiografi yang diterbitkan tahun 1967, ditulis oleh seorang novelis Jepang Ayuki Nosaka, novel ini didedikasikan sebagai ungkapan perasaan dan permohonan maafnya kepada adik perempuan penulis yang meninggal karena malnutrisi pada saat Perang Dunia Ke-II. Film ini dibuat 20 tahun setelah novelnya terbit yaitu tahun 1988.

Berlatar belakang di Kota Kobe, Jepang, tahun 1945, pada saat Perang Dunia Ke-II berkecambuk. Menceritakan seorang pemuda bernama Seita yang harus merawat adik perempuannya yang masih berumur 5 tahun setelah orang tuanya meninggal.

Perang telah membuat mereka harus kehilangan ibu, yang tewas akibat terkena serangan udara pesawat Amerika dan Ayah yang juga meninggal saat berjuang di medan perang.

Rumah mereka hangus, tak ada lagi yang tersisa, semua bangunan rata dengan tanah. Beruntung masih ada makanan dan barang- berharga keluarga yang sempat dikubur Seita di pekarangan rumah, untuk sementara waktu hanya itu persediaan yang bisa membantu. Kemudian Seita membawa adiknya Setsuko menemui bibinya. Mereka akhirnya tinggal bersama keluarga bibinya. Setelah persediaan makanan yang dibawa mereka habis bibinya menjadi berubah perangai, terus-menerus memaki kedua anak yatim piatu tersebut sebgai anak malas, menyusahkan dan tidak tahu diri.

Kemudian, Seita memutuskan untuk membawa adiknya keluar dari rumah itu dan menetap disebuah banker tempat persembunyian yang telah lama ditinggalkan. Disana mereka makan seadanya, dengan menjual semua barang-barang berharga milik ibunya yang tersisa.

Yang menyayat hati adalah ketika Setseku pada akhirnya terbaring lemah karena kelaparan dan malnutrisi. Ia mulai mengkhayalkan batu-batu kerikil sebagai  permen kesukaannya dan kepalan tanah sebagai nasi. Setsuko sangat menyukai kunang-kunang, bahkan malam haripun tempat gelap dimana mereka tinggal diterangi hanya oleh kerlap-kerlip kunang-kunang.

Tak ada lagi yang bisa di makan, hingga suatu saat Setsuko pun terkena diare, semakin hari tubuhnya semakin lemah hingga tergolek lemas. Seita sempat membawanya ke dokter, namun dokter mengatakan bahwa Setsuko tidak membutuhkan obat melainkan makanan.

Demi menyelamatkan Setsuko, Seita mau melakukan apapun, sekalipun melakukan hal yang berbahaya, mencuri di kebun orang atau di rumah-rumah yang sementara ditinggalkan pemiliknya ketika serangan bom berlangsung.. Sayangnya, malam itu Setsuko tertidur dan tidak pernah terbangun lagi.

Sebuah cerita yang menyentuh, perjuangan seorang kakak dalam menjaga seorang adik, cerita tentang kekejaman perang yang tidak hanya merenggut nyawa lewat peluru dan bom, tapi juga melalui rasa lapar dan sakit.

 

Sumber : Wiklipedia

Gambar diambil dari :

http://www.google.co.id/imgres?imgurl=http://ia.media-imdb.com/images/M/MV5BMjA0MzgwMTU4MV5BMl5BanBnXkFtZTcwODYxNjEzMQ%40%40._V1_SY317_CR5,0,214,317_.jpg&imgrefurl=http://www.imdb.com/title/tt0095327/&h=317&w=214&sz=19&tbnid=IXE_gF7xMTJwMM:&tbnh=90&tbnw=61&prev=/search%3Fq%3Dgrave%2Bof%2Bthe%2Bfireflies%26tbm%3Disch%26tbo%3Du&zoom=1&q=grave+of+the+fireflies&usg=__lebMbav4kr5Wb5rxDKE9ou2BZTY=&docid=7n4EVQsXwCsgFM&hl=id&sa=X&ei=u4shUeGwLs2NrgeC3IGIAg&sqi=2&ved=0CFQQ9QEwBg&dur=4993

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s