“Hilang Kunci”

Pagi ini meskipun hari minggu tapi berbeda dari biasanya, karena ponakan harus berangkat pagi-pagi untuk ujian taekwondo. Setelah membuat sarapan dan mencuci mobil, lalu tepat pukul 05.30 waktu Indonesia bagian barat melucurlah saya bersama dede asti dan tiga temannya menuju sekolah yang berjarak sekitar 5 km dari kediaman kami. “Makasih bi”, “Makasih bi”, “Makasih bi”, “Makasih bi” begitulah keempat anak berbaju putih-putih itu bunyinya menyertai ritual “sapun see you latter-nya” satu demi satu.

Saya pun meluncur balik, dalam perjalanan saya melihat banyak sekali yang gowes pagi, mungkin karena hari ini adalah hari minggu, seneng lihatnya, seolah saya ikut merasakan kesegaran yang mereka rasakan pada setiap tetesan keringatnya. Melayang pikiran saya pada beberapa tahun silam.. ketika saya berada di Sapporo, sebuah kota kecil di Jepang yang akan selalu saya rindukan. Teringat betapa tinggi ketergantungan kami terhadap kereta beroda dua tersebut waktu itu. Sebagai alat transportasi yang menyehatkan dan free of charge tentunya. Masih segar rasanya dalam ingatan bagaimana segarmya hembusan angin Sapporo menyapu muka, bagaimana pegalnya lutut ini dan memburunya nafas ketika berusaha mengejar ketinggalan dari teman-teman dalam setiap tanjakan.

Sekali waktu, hari minggu, kampus libur sehingga kami pergi makan siang di Mc Donald.

2094275939_4231089c35_z

Sebuah prosedur tetap setelah menambatkan sepeda yaitu menguncinya, sekalipun Jepang merupakan salah satu negara dengan tingkat kriminalitas yang sangat rendah.

Namanya restaurant past food, disana karyawan depan hanya ada tiga orang, yaitu yang bertugas mengambil order, cashier dan yang menyerahkan orderan, tidak ada yang bertugas membereskan atau membersihkan meja, pelanggan harus membuang sendiri sampah dan merapikan kembali kursi dan meja.

Saya yang masih “belibet” membuang sampah dengan dipilah-pilah berdasarkan jenisnya rupanya tanpa sengaja kunci sepedapun ikut terbuang dan baru saya sadari ketika hendak membuka tambatan sepeda, hadeuhhh.. alhasil harus kembali dan membongkar 3 trash box besar yang ada, bayangkan! Kemudian celakanya, kami tidak berbahasa jepang dan mereka tidak berbahasa inggris, ohh boy.. betapa sulitnya kami menjelaskan bahwa saya kehilangan kunci dan bermaksud meminta izin membongkar tempat sampah mereka “I lose my KAGI, I think I dropped it some where inside the trash box, may I search for it ?” mereka hanya bengong, mungkin dalam hatinya “ngomong ape sih loe” begitu lah kira-kira yang saya baca dari raut mukanya. Dengan segala gerak tubuh dan alat bantu yang ada akhirnya mereka mengerti juga dan mengijinkan kami membongkar tempat sampah nya. Malunyaaaaaa…. tapi Alhamdulillah ketemu juga itu kunci, untunglah satu-satunya kata yang nempel di kelas bahasa jepang adalah KAGI alias KUNCI, hiiihihi….

bike

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s