“Satu Januari “

Setiap tanggal 1 Januari, ketika bapa masih ada, biasanya di rumah kita selalu membuat nasi kuning, bukan untuk menyambut tahun baru masehi, melainkan karena tanggal 1 Januari adalah tanggal lahir almarhum bapa saya tercinta. Bapa lahir pada tanggal 1 Januari 1935. Meskipun kami tidak biasa memperingati hari ulang tahun, namun tanggal itu biasanya jadi waktu buat kami sekeluarga berkumpul, menyantap nasi kuning buatan almarhumah mamah, the wonder woman.

Itu adalah masa-masa yang sangat indah untuk dikenang dalam hidup saya.

Bapa saya, Salim Sulaeman, bukanlah seorang sarjana, doktor apalagi profesor. Beliau hanyalah tamatan sekolah menengah pertama, satu-satunya SMP di kampung kami waktu itu. Meskipun demikian buat saya, semenjak kecil hingga saat ini tetap merasa bahwa bapa saya adalah orang yang paling pintar dan serba bisa sedunia.

Bapa saya sangat suka membaca, buku atau tulisan apapun, meski usang sekalipun. Bapa saya sangat suka mempelajari hal-hal baru.

Do you know what? he can fix almost everything, mobil mogok, listrik konslet, mengoperasikan mesin jahit, memperbaiki saluran air, membuat mesin tetas, memperbaiki semua mainan saya ketika kecil, sepatu yang mangap sampai memperbaiki jepit rambut saya setelah saya dewasa.

Bapa adalah salah satu orang di dunia ini yang paling saya percaya, tempat saya bertanya ketika saya bingung, tempat saya datang ketika tidak dapat menyelesaikan suatu persoalan. Saya bisa menanyakan hal apapun padanya. Beliau dapat menghilangkan seketika segala keraguan di hati saya. Segala sesuatu dapat dibuatnya menjadi mudah.

Bapa lah yang mengajarkan saya membaca dan bapa pula yang pertama mengajarkan beberapa kata dalam bahasa inggris, karenanya di usia 5 tahun saya sudah bisa membaca koran dan bisa beberapa kata dalam bahasa inggris, tentu saja di kampung saya tidak umum kala itu.

Saya masih ingat betapa seringnya saya diantar bapa sekolah, dibonceng oleh motor merah tua yang bertuliskan 125.

Ketika kuliahpun saya sering kali diantar bapa dengan mobil colt warna merah hati yang sering mogok atau carry putih yang agak mendingan.
Pergi dengan bapa, meski mobil mogokan tidak sedikitpun pernah khawatir dan hanya dengan bapa saya tidak takut di ajak ngebut, because I believe him.

“Pap, besok jadwal prajabatan gelombang terakhir untuk tahun ini, boleh ikut?” Tanyaku pelan, ketika bapa terbaring sakit keras, bapa menjawab dengan sebuah anggukan, perlahan namun terlihat ketegasan dan dorongan untukku saat itu. Itu terakhir kali percakapan yang saya ingat dengannya.

Esok hari saya berangkat ke tempat pendidikan dengan terlebih dahulu mengantarkan bapa ke ICU rumah sakit Al-Islam.

Setiap hari saya sms kakak saya untuk menanyakan keadaan bapa, tapi tidak pernah satupun dibalas, merupakan pertanda kondisi bapa tidak membaik. Setiap hari saya berdoa agar diberikan yang terbaik untuk ayah saya.

Sampai pada suatu hari saya memperoleh berita gembira, bapa telah dipindah ke ruang perawatan biasa. Saya sangat senang hari itu, setelah sholat shubuh, saya biasa berdo’a meminta yang terbaik untuk bapa, tapi kali itu karena saya tahu bapa membaik maka saya berdoa agar bapa segera dapat kembali sehat seperti sedia kala.

Pagi itu saya sangat berbeda, kabar membaiknya bapa sangat mempengaruhi saya, saya sangat bersemangat pagi itu.

Jam 6.30 pagi, saya masih mengenakan kaos olah raga, tiba-tiba ada panggilan, saya turun melalui tangga depan, saya melihat atasan saya tengah berbicang dengan pembimbing saya, benak saya bertanya-tanya, kemudian atasan saya berkata “yang kuat ya, bapa telah dipanggil Allah jam 3 pagi ini”.

اِنّا لِلّهِ وَاِنّا اِلَيْهِ رَجِعُوْنَ
Rupanya tadi subuh ketika saya berdoa agar bapa sehat, sebenarnya bapa telah tiada …

Bapa wafat diusianya yang ke 75 tahun, menyusul mamah yang telah terlebih dahulu dipanggil Allah, 2 tahun sebelumnya.

Semenjak itu, beberapa waktu lamanya saya merasa sangat kehilangan. Ketika saya bingung, ingin rasanya telepon bapa untuk bertanya, ketika saya punya rejeki atau uang lebih ingin rasanya berbagi kabar gembira dan membelikannya sesuatu. Tapi gak bisa…

Sekarang hanya bisa mendoakannya dari sini..

Sampai sekarang, saya belum bisa berlama-lama diam di rumah tempat saya dulu dibesarkan tersebut, tempat kami biasa berkumpul, belum bisa…. The memories still hurting me somehow, that’s why I prefer to stay in my dorm, no matter it doesn’t make sense for other peoples but in here I feel safe, I feel secure. Tidak berusaha lari, hanya ingin mandiri :).

Well, Love you pap… always do.. happy birthday.

Semoga Allah menerima amal ibadah, menghapuskan dosa dan kesalahan, serta menempatkan ditempat yang mulia : mamah, bapa, teh dian dan kang asep.. Amiin YRA.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s