0

“Minggu Lalu”

Hari minggu lalu, saya dan kedua keponkan pergi ke bioskop untuk menonton sebuah film karya anak bangsa yang bisa dibilang merupakan salah satu box office. Meskipun malu mengakuinya, namun apa hendak dikata, sedari dulu memang saya sangat selektif dalam memilih film dari negeri saya sendiri, entah mengapa, yang pasti saya yakin bukan karena minimnya rasa nasionalisme dalam diri saya, mungkin hanya karena masalah selera saja.

Dengan kata lain, kali ini saya nonton film ini benar-benar hanya karena mengantar keponakan semata. Lalu apa yang terjadi, filmnya hanya dapat bertahan menarik perhatian saya tak lebih dari 30 menit pertama, selanjutnya…  saya mulai mencuri-curi pencat-pencet Blackberry saya pertanda bosan mulai melanda. Kursi duduk mulai berasa panas, berubah-ubah posisi berusaha mencari  nyaman sembari dalam hati “ihh.. lama betul nih film, kapan udahannya ya”.

Pikiran dan hati saya pun pada akhirnya benar-benar keluar dari film itu, meskipun mata saya masih tertuju pada layar besar di depan saya namun apa yang ada dalam kepala saya bukanlah alur cerita film tersebut melainkan tentang tersadarnya saya akan sesuatu hal, yaitu betapa besarnya pengorbanan siapapun itu yang pergi menonton bioskop untuk sebuah film yang tidak disukainya hanya semata karena menemani orang-orang yang dicintainya, beneran deh…. karena itu tidak sebentar dan tidak bisa melakukan aktifitas lain untuk membunuh waktu seperti baca buku, browshing, twitting atau ganti chanel 😀  .

Jadi teringat seseorang yang pernah saya paksa untuk nemenin nonton Twilight Saga.. hehehe.. hampura…

0

“I Won’t Give Up on Me”

Pagi ini koq gue jadi mellow gini ya..

Gara-garanya pas beres-beres kamar, si Jason Miraz dengan “I won’t give up” lewat di kuping pagi ini, secara tiba-tiba terlintas dalam pikiran “I wish there is someone who won’t give up on me, kaya si miraz itu .. No matter how stubborn I am, no matter how sassy I am and no matter how jealousy I am, someone who can see the real me and how sweet I am behind all those things “.

Ahh.. Anyway.. I don’t want anybody anymore, coz in the end somehow they will give up on me just like them no matter how sweet they are in the beginning …

Now I just want to keep focus on 3 things in life, how to give the best of me for my work place, how to take care of my sister’s daughters and how to prepare my self for my “next life”.

Now cheers up sweety, wipe your tears, up your head, smile, enjoy your life and be positive.

Life is short, boleh lah sekali-kali melow, tp jangan lebih dari 5 menit yaaaaa….

3

“Vaksinasi Menjelang Umroh”

IMG-20130223-01899Pada hari Jum’at tanggal 22 Pebruari 2013,  saya pergi ke Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Bandara Husein Sastra Negara untuk melakukan vaksinasi meningitis agar dapat memperoleh buku kuning (International Certificate of Vaccination or Prophylaxis) sebagai salah satu syarat untuk memperoleh vissa  Arab Saudi  untuk melaksanakan ibadah umroh.

Vaksinasi meningitis harus dilakukan setidaknya 10 hari sebelum hari keberangkatan, karena pada dasarnya semua jenis vaksinasi membutuhkan waktu di dalam tubuh untuk membentuk antibodi sehingga efektif melawan infeksi tertentu. Waktu yang dibutuhkan untuk setiap jenis vaksin berbeda tentunya, seperti vaksin meningitis butuh waktu 10 hari sementara vaksin influenza dan vaksin pneumokokal membutuhkan waktu kurang lebih 1 bulan untuk mencapai imunitas yang sempurna. Vaksin meningitis ini dapat memberikan kekebalan di dalam tubuh selama 2 tahun.

Meningitis adalah radang selaput otak yang dapat disebabkan oleh bakteri, virus atau fungal (jamur), namun yang paling sering yaitu disebabkan oleh virus dan bakteri. Beberapa kasus penyakit meningitis dapat sembuh setelah dilakukan perawatan dan pengobatan, namun beberapa diantaranya dapat menyebabkan kerusakan permanen pada otak, kehilangan pendengaran bahkan kematian.

Negara-negara di timur tengah, Afrika, Amerika Utara dan beberapa negara lain merupakan wilayah endemis penyakit meningitis, sehingga jika kita akan mengunjungi negara-negara tersebut diharuskan melakukan vaksinasi meningitis terlebih dahulu. Bisa kita bayangkan, ketika melaksanakan ibadah haji atau umroh maka berkumpullah orang dari berbagai pelosok dunia, sehingga bukan hanya orangnya saja yang berkumpul, begitu pula bibit penyakit yang dibawanya dari negara masing-masing tentunya. Dibutuhkan daya tahan tubuh extra untuk menangkalnya, ditambah lagi dengan perbedaan cuaca, kelelahan dan lain-lain dapat menyebabkan menurunnya daya tahan tubuh atau tingkat kekebalan seseorang.

Semenjak tahun 2007 menteri kesehatan Arab Saudi mengeluarkan rekomendasi vaksinasi influenza selain mewajibkan vaksinasi meningitis bagi calon jamaah haji dan umroh terutama untuk mereka yang memiliki resiko tinggi seperti orang tua, mereka yang memiliki penyakit paru kronis, hati dan ginjal.

Saya berangkat dari kantor di daerah Dago sekitar pukul 8.30, sampai di bandara Husein pukul 09.00 pagi. Sulit sekali untuk memperoleh parkir disini, sehingga saya parkir diluar area parkir bandara, tidak jauh, hanya beberapa meter ke arah keluar dan kebetulan Gedung KPP Bandara Husein Sastranegara berada tepat di gerbang keluar parkir bandara.

Pertama-tama yaitu mengambil nomor antrian dan formulir yang harus di isi (Nama sesuai passport, tempat tanggal lahir, nomor passport, nama travel agent, negara tujuan, tanggal keberangkatan), setelah menyerahkan formulir kemudian menunggu untuk dipanggil, kasir memanggil dan membayar Rp. 280.000,- untuk vaksinasi meningitis dan influenza. Setelah membayar kemudian menunggu kembali panggilan, kebetulan tidak lama hanya sekitar 15 menit petugas memanggil kembali, dikumpulkan dalam sebuah ruangan dengan kapasitas sekitar 25 orang, petugas memberikan penerangan tentang seluk beluk vaksinasi meningitis, lalu tanya jawab dan selanjutnya langsung dilakukan vaksinasi bagi yang pria dan wanita belum menikah, sementara bagi yang telah menikah terlebih dahulu diharuskan periksa urin untuk memastikan tidak hamil sebelum dilakukan vaksinasi. Vaksin meningitis yang digunakan memiliki merk dagang Menveo yang merupakan produk dari Novartis sebuah perusahaan farmasi Swiss.

Untuk yang berusia diatas 65 tahun atau memiliki penyakit asthma, jantung dan diabetes dokter menyarankan agar  juga melakukan vaksinasi pneumokokal, tapi itu tergantung kita, kalau saya sendiri karena saya memiliki asthma semenjak kecil maka saya pun memilih untuk sekalian juga melakukan vaksinasi pneumokokal, harga vaksinasi ini juga Rp. 280.000,-, vaksinasi ini dapat memberikan perlindungan hingga 5 tahun terhadap penyakit pneumonia (radang paru).

Kalau dihitung-hitung hanya membutuhkan waktu 45 menit bagi saya semenjak sampai di KPP Bandara Husein Sastranegara sampai dengan selesai mendapatkan yellow book, alhamdulillah tidak begitu antri, entah karena masih pagi atau mungkin karena hari jumat. O,ya sebagai informasi KPP hanya buka pada hari kerja saja.

href=”https://gharra.files.wordpress.com/2013/02/img-20130223-01898.jpg”>

Sources :

http://www.meningitis-trust.org/meningitis-info/types-and-causes/

http://www.cdc.gov/meningitis/bacterial.html

http://www.menveo.com/

<a

0

“Satu Januari “

Setiap tanggal 1 Januari, ketika bapa masih ada, biasanya di rumah kita selalu membuat nasi kuning, bukan untuk menyambut tahun baru masehi, melainkan karena tanggal 1 Januari adalah tanggal lahir almarhum bapa saya tercinta. Bapa lahir pada tanggal 1 Januari 1935. Meskipun kami tidak biasa memperingati hari ulang tahun, namun tanggal itu biasanya jadi waktu buat kami sekeluarga berkumpul, menyantap nasi kuning buatan almarhumah mamah, the wonder woman.

Itu adalah masa-masa yang sangat indah untuk dikenang dalam hidup saya.

Bapa saya, Salim Sulaeman, bukanlah seorang sarjana, doktor apalagi profesor. Beliau hanyalah tamatan sekolah menengah pertama, satu-satunya SMP di kampung kami waktu itu. Meskipun demikian buat saya, semenjak kecil hingga saat ini tetap merasa bahwa bapa saya adalah orang yang paling pintar dan serba bisa sedunia.

Bapa saya sangat suka membaca, buku atau tulisan apapun, meski usang sekalipun. Bapa saya sangat suka mempelajari hal-hal baru.

Do you know what? he can fix almost everything, mobil mogok, listrik konslet, mengoperasikan mesin jahit, memperbaiki saluran air, membuat mesin tetas, memperbaiki semua mainan saya ketika kecil, sepatu yang mangap sampai memperbaiki jepit rambut saya setelah saya dewasa.

Bapa adalah salah satu orang di dunia ini yang paling saya percaya, tempat saya bertanya ketika saya bingung, tempat saya datang ketika tidak dapat menyelesaikan suatu persoalan. Saya bisa menanyakan hal apapun padanya. Beliau dapat menghilangkan seketika segala keraguan di hati saya. Segala sesuatu dapat dibuatnya menjadi mudah.

Bapa lah yang mengajarkan saya membaca dan bapa pula yang pertama mengajarkan beberapa kata dalam bahasa inggris, karenanya di usia 5 tahun saya sudah bisa membaca koran dan bisa beberapa kata dalam bahasa inggris, tentu saja di kampung saya tidak umum kala itu.

Saya masih ingat betapa seringnya saya diantar bapa sekolah, dibonceng oleh motor merah tua yang bertuliskan 125.

Ketika kuliahpun saya sering kali diantar bapa dengan mobil colt warna merah hati yang sering mogok atau carry putih yang agak mendingan.
Pergi dengan bapa, meski mobil mogokan tidak sedikitpun pernah khawatir dan hanya dengan bapa saya tidak takut di ajak ngebut, because I believe him.

“Pap, besok jadwal prajabatan gelombang terakhir untuk tahun ini, boleh ikut?” Tanyaku pelan, ketika bapa terbaring sakit keras, bapa menjawab dengan sebuah anggukan, perlahan namun terlihat ketegasan dan dorongan untukku saat itu. Itu terakhir kali percakapan yang saya ingat dengannya.

Esok hari saya berangkat ke tempat pendidikan dengan terlebih dahulu mengantarkan bapa ke ICU rumah sakit Al-Islam.

Setiap hari saya sms kakak saya untuk menanyakan keadaan bapa, tapi tidak pernah satupun dibalas, merupakan pertanda kondisi bapa tidak membaik. Setiap hari saya berdoa agar diberikan yang terbaik untuk ayah saya.

Sampai pada suatu hari saya memperoleh berita gembira, bapa telah dipindah ke ruang perawatan biasa. Saya sangat senang hari itu, setelah sholat shubuh, saya biasa berdo’a meminta yang terbaik untuk bapa, tapi kali itu karena saya tahu bapa membaik maka saya berdoa agar bapa segera dapat kembali sehat seperti sedia kala.

Pagi itu saya sangat berbeda, kabar membaiknya bapa sangat mempengaruhi saya, saya sangat bersemangat pagi itu.

Jam 6.30 pagi, saya masih mengenakan kaos olah raga, tiba-tiba ada panggilan, saya turun melalui tangga depan, saya melihat atasan saya tengah berbicang dengan pembimbing saya, benak saya bertanya-tanya, kemudian atasan saya berkata “yang kuat ya, bapa telah dipanggil Allah jam 3 pagi ini”.

اِنّا لِلّهِ وَاِنّا اِلَيْهِ رَجِعُوْنَ
Rupanya tadi subuh ketika saya berdoa agar bapa sehat, sebenarnya bapa telah tiada …

Bapa wafat diusianya yang ke 75 tahun, menyusul mamah yang telah terlebih dahulu dipanggil Allah, 2 tahun sebelumnya.

Semenjak itu, beberapa waktu lamanya saya merasa sangat kehilangan. Ketika saya bingung, ingin rasanya telepon bapa untuk bertanya, ketika saya punya rejeki atau uang lebih ingin rasanya berbagi kabar gembira dan membelikannya sesuatu. Tapi gak bisa…

Sekarang hanya bisa mendoakannya dari sini..

Sampai sekarang, saya belum bisa berlama-lama diam di rumah tempat saya dulu dibesarkan tersebut, tempat kami biasa berkumpul, belum bisa…. The memories still hurting me somehow, that’s why I prefer to stay in my dorm, no matter it doesn’t make sense for other peoples but in here I feel safe, I feel secure. Tidak berusaha lari, hanya ingin mandiri :).

Well, Love you pap… always do.. happy birthday.

Semoga Allah menerima amal ibadah, menghapuskan dosa dan kesalahan, serta menempatkan ditempat yang mulia : mamah, bapa, teh dian dan kang asep.. Amiin YRA.