“Pangeran dan Si Buruk Rupa”

Alkisah di sebuah negeri antah berantah, hiduplah seorang gadis yang buruk rupa, namun walaupun demikian hati dan budipekertinya sangatlah lembut dan suka menolong. Ia hidup sendiri di sebuah rumah kecil nan asri di pinggiran sebuah hutan.

Pada suatu hari, seorang pangeran pergi berburu ke hutan tersebut. Ketika berusaha mengejar rusa buruannya, sang pangeran terpisah dari para ponggawanya. Naasnya seekor lebah berbisa menyengatnya, konon lebah tersebut dapat menyebabkan kebutaan dan hilang ingatan bagi siapapun yang disengatnya, termasuk sang pangeran.

“Dimana aku? Kenapa gelap? Kenapa aku tƌk bisa melihat?” Teriak pangeran panik ketika ia tersadar dari pingsannya.

“Tenang tuan, jangan takut, anda tersengat lebah berbisa dan sekarang anda berada di rumah saya, nama saya Gharra” ujar si gadis berusaha menenangkan sang pangeran.

Semenjak itu sang gadis merawat pangeran dengan baik. Hari demi hari, pada akhirnya sang pangeran jatuh cinta pada kelembutan dan kebaikan hati Gharra si gadis buruk rupa.

Karena ketelatenan sang gadis, merawat dan mengobati sang pangeran, akhirnya pangeran dapat melihat kembali, bahkan ia dapat mengingat kembali siapa ia sebenarnya. Namun apa yang terjadi, betapa kagetnya sang pangeran ketika ia melihat betapa buruk rupa gadis yang telah membuatnya jatuh cinta selama ini tersebut.

Sang pangeran kecewa, lalu pergi begitu saja meninggalkan sang gadis yang telah merawatnya itu sendiri dan kembali ke istana.

Pesta meriah untuk menyambut kembalinya sang pangeran pun di gelar, gadis-gadis muda berlomba berdandan untuk memikat hati sang pangeran yang dikabarkan tengah mencari calon pendamping hidup.

Setiap kali pangeran mendekati mereka, tidak ada satu pun yang dapat membuat pangeran jatuh hati. Ia merasa ada bagian dari dirinya yang hilang.

Sang pangeran menyadari, bahwa semua gadis jelita itu yang menginginkannya hanya karena mereka tahu kalau ia seorang pangeran yang kaya dan rupawan. Sedangkan Gharra mencintainya ketika ia berada dalam titik terendah dalam hidupnya, buta dan tƌk memiliki apapun.

Cinta sejati adalah mencintai seseorang sepenuhnya sebagai seorang manusia. Sang pangeran pun baru menyadari kesalahan terbesarnya meninggalkan seseorang yang benar-benar mencintainya, bukan rupanya ataupun kekuasaan dan kekayaannya.

**

Gharra sangat sedih ketika sang pangeran pergi, ia mengira laki-laki tersebut berbeda dari laki-laki lainnya, namun ternyata sama, setelah melihat buruk rupanya maka seolah hilanglah segala kebaikannya.

Pagi itu ia bersiap-siap untuk meninggalkan tempat tinggalnya itu untuk selamanya, karena tempat itu memberikan terlalu banyak kenangan baginya, setiap sudut mengingatkannya pada sang pangeran yang telah pergi meninggalkannya.

Namun tiba-tiba, sebuah suara yang amat ia kenal terdengar lirih “Gharra, maafkan aku, maafkan kekeliruanku, kamulah yang aku mau, jangan pergi”. Sang pangeran datang dengan sekuntum bunga mawar merah kesukaannya.

Gharra terpaku dan membisu, air mata bahagia meleleh dipipinya, seolah ia tƌk percaya apa yang dilihat dan didengarnya.

Itulah pertama kalinya pangeran melihat Gharra sangat cantik dimatanya. Sang pangeran kini telah benar-benar dewasa, ia telah dapat menggunakan mata hatinya lebih ketimbang kedua bola matanya.

“Maukah kau menikah denganku?” Tanya sang pangeran.

Kerinduan yang membuncah seolah terlepaskan, Gharra berlari ke pelukan sang pangeran seraya berbisik “iya, aku mau”.

****

One thought on ““Pangeran dan Si Buruk Rupa”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s