“Standing in The Light Does Not Require a Sturdy Spine Just a Courageous Soul”

imagesUmur 17 tahun mungkin dianggap sebagai gerbang masuk dari masa remaja ke masa dewasa, pada umur itulah saya pertama kali saya didiagnosa menderita Scoliosis.

Scoliosis adalah suatu kelainan pada tulang belakang, dimana tulang belakang yang seharusnya lurus, pada kondisi ini membelok ke kiri atau kanan, dapat membentuk huruf “S” atau “C”.

Sebenarnya Scoliosis berasal dari bahasa Yunani yang berarti bengkok, menurut “The National Scoliosis Fondation” USA, Scoliosis ditemukan pada 4,5 % populasi dan lebih banyak diderita oleh  perempuan dibanding laki-laki atau sekitar 2:1.

Pada waktu itu, saya sedang belajar sendiri di kamar, membaca buku pelajaran biologi, yaitu bab mengenai kelainan-kelainan pada tulang belakang, waktu itu tanpa maksud apa-apa saya melihat diri saya sendiri pada cermin dengan seksama, namun baru saya menyadari kalau pundak kanan dan kiri saya tidak simetris, sehingga berdasarkan buku yang saya baca, dengan yakin saya menyimpulkan bahwa saya menderita scoliosis.

Kemudian saya segera memberitahukan hal tersebut kepada ibu saya, ibu pun kaget karena baru menyadari hal ini. Esok harinya kami menemui dokter ahli orthopedi di RS. Halmehera Siaga, Bandung. Setelah dilakukan rongent, dokter menyatakan bahwa scoliosis saya telah mencapai 43°, sehingga harus dilakukan operasi untuk memasang rods dan screws. Andai saja curve pada tulang punggung saya kurang dari 40° dapat dilakukan treatment lain tanpa operasi.

Mendengar diagnosa dokter tersebut, tentu saja kami terkejut. Kami tidak percaya begitu saja, kemudian kami menemui dokter ahli orthopedi di RSPAD Gatot Subroto, Jakarta untuk memperoleh second opinion. Namun,hasilnya sama yaitu “operasi”, ayah ibu saya sangat alergi dengan kata-kata itu, ketika kakak saya mengalami komplikasi dalam persalinan yang mengharuskannya menjalani operasi caesar saja sudah membuat ibu saya hampir pingsan, apalagi ini, sebuah operasi besar dengan tingkat resiko yang tinggi dan membutuhkan recovery bulanan. Belum lagi biaya yang dibutuhkan untuk sebuah operasi besar bukanlah main-main tentunya.

Kami meminta saran dokter tentang tindakan apa yang dapat dilakukan jika kami menghindari operasi, maka dokter memberikan saran menggunakan brace, sebenarnya brace ini digunakan untuk penanganan scoliosis dengan curve antara 20-40°, kemudian kami setuju untuk dibuatkan alat tersebut.

Sampai sekarang saya masih ingat, saya berada dalam sebuah ruangan yang mirip bengkel, dengan macam-macam alat berat, kaki palsu, tangan palsu dan lain-lain. Petugas melumuri tubuh saya dengan semen putih, dan membiarkannya sampai mengering dengan maksud untuk membuat cetakan untuk brace saya.

Brace itu terbuat dari apa ya, entahlah sesuatu yang cukup berat dengan beberapa besi dan perekat, sangat tidak nyaman untuk dikenakan, namun dokter mengharuskan saya memakainya 23 jam sehari. brace

Dulu saya merasa malu mengenakannya, terutama untuk pergi ke sekolah, bayangkan saja, waktu itu saya adalah seorang remaja putri berusia 17 tahun, tidak elok dilihat dan tidak nyaman dirasa pula. Setiap 6 bulan sekali saya harus melakukan kontrol untuk mengecheck pertambahan curve.

Menurut dokter, jika dibiarkan tidak dilakukan tindakan pembedahan, maka kemungkinan terburuk adalah curve akan bertambah seiring waktu, dikhawatirkan akan mengganggu saraf tulang belakang, kita tahu apa saja kemungkinan jika hal itu terjadi. Selain masalah syaraf, tulang rusuk yang terganggu karena pembengkokan tersebut dapat mengganggu kerja optimal paru-paru dan jantung.

Setiap hari selalu dihantui rasa takut akan apa yang diutarakan oleh dokter tersebut, apalagi jika sudah waktu kontrol datang.

Suatu waktu, ketika saya sedang menuntut ilmu di sebuah universitas di kota hujan, Bogor. Saya hendak mandi dan menaruh brace di belakang pintu kamar kos,teman saya tiba-tiba datang dan membuka pintu dengan kencang sehingga menghantam brace tersebut,bagian yang bukan besinya hancur berkeping, teman saya sangat kaget waktu itu dan saya pun tak kalah kagetnya, namun saya berkata “sudah, ga apa-apa, jangan khawatir,  lagian saya juga bosen pakainya, pegal dan sakit, sangat tersiksa, sebenernya ingin berhenti mengenakannya, tapi tentu tidak ada alasan yang tepat, ini adalah alasan yang sempurna untuk berhenti mengenakannya, ha ha ha.. ”. Teman saya pun terlihat lega dengan reaksi saya.

Begitulah ceritanya, teman saya tidak hanya telah menghancurkan brace namun juga menghancurkan kata “why me?” dan “what happen next?”dari dalam diri saya.

Akhirnya saya memutuskan untuk berhenti mengkhawatirkan apa yang belum terjadi, saya percayakan diri dan masa depan saya pada yang Maha Kuasa. I start to live my life every second as if I’m a perfectly healthy woman, saya bersyukur dan bahagia dengan saya apa adanya. Mungkin yang sedikit menggangu aktifitas kerja saya adalah saya tidak dapat berdiri untuk waktu yang lama, it hurt my back, tapi selain itu, I’m absolutly fine, Alhamdulillah.

Seperti kata pepatah barat, untuk berdiri tegak menyongsong mentari tidak dibutuhkan tulang punggung yang kuat, hanya diperlukan jiwa yang berani 🙂

***

http://kidsgen.blogspot.com/2010/12/bahaya-dan-fakta-menarik-skoliosis-yang.html

http://www.news-medical.net/health/What-is-Scoliosis-%28Indonesian%29.aspx

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s