“Sahabatku dan Ramen”

IMG-20121126-01601Sore itu langit mendung, Arina yang sangat menggemari mie khas Jepang alias ramen, mengajak kedua temannya Abil dan Hakiem untuk mencicipi ramen di kedai baru di seberang kantornya.

Seperti biasa mereka bertiga memilih menu yang berbeda agar tahu menu mana yang juara di tempat tersebut.

“Tadi malam aku bermimpi, pergi umroh bertiga bersama almarhumah mamah dan teteh, terus aa dari Indonesia telepon, mengabarkan bahwa Kang Asep yang tengah sakit keras meninggal dunia” Arina memulai ceritanya sembari menunggu pesanan datang, kedua temannya tidak berkomentar apapun, bukan berarti tidak mendengarkan atau tidak peduli, both of them just dont know what to say sepertinya.

Kemudian Arina tiba-tiba bertanya “by the way, sebenernya kalau pake kerudung itu bener-bener wajib kah?”

Lalu kedua temannya menjawab dengan serempak dan tegas “Wajib!”

“Kalau memang wajib dan tak tertawarkan, terus mengapa banyak orang yang mengerti agama tapi tidak berjilbab? terus mengapa …….yang merupakan salah satu putri dari seseorang yang sering memberikan ceramah agama baik di TV atau media lainnya tidak berkerudung? apa ayahnya tidak menyuruhnya untuk berhijab?” Tanya Arina bertubi-tubi.

Mengapa Arina hari itu tiba-tiba terlihat sangat antusias bertanya seputar jilbab pada kedua temannya? Ternyata malam sebelumnya Arina tidak dapat tidur setelah membaca sebuah kisah yang berjudul “Jilbab Hati”, ini ceritanya:

***

Ada seorang wanita yang dikenal taat beribadah. Ia kadang menjalankan ibadah sunnah. Hanya satu kekurangannya. Ia tak mau berjilbab. Menutup auratnya. Setiap kali ditanya ia hanya tersenyum dan menjawab, “Insyaallah. Yang penting hati dulu yang berjilbab.” Sudah banyak orang yang menanyakannya maupun menasehatinya. Tapi jawabannya tetap sama.
Hingga di suatu malam…

Ia bermimpi sedang di sebuah taman yang sangat indah. Rumputnya sangat hijau, berbagai macam bunga bermekaran. Ia bahkan bisa merasakan segarnya udara dan wanginya bunga. Sebuah sungai yang sangat jernih hingga dasarnya kelihatan, melintas di pinngir taman. Semilir angin pun ia rasakan di sela-sela jarinya. Ia tidak sendiri. Ada beberapa wanita disitu yang terlihat jjuga menikmati keindahan taman. Ia pun menghampiri salah satu wanita. Wajahnya sangat bersih, seakan-akan memancarkan cahaya yang sangat lembut.
“Assalamualaikum, saudariku..”
“Wa alaikumsalam.. Selamat datang, saudariku.”
“Terima kasih. Apakah ini surga?”

Wanita itu tersenyum.
“Tentu saja bukan, saudariku. ini hanyalah tempat menunggu sebelum ke surga.”
“Benarkah? Tak bisa kubayangkan seperti apa indahnya surga jika tempat menunggunya saja sudah seindah ini.”

Wanita itu tersenyum lagi.
“Amalan apa yang bisa membuatmu kemari, saudariku?”
“Aku selalu menjaga waktu sholat dan aku menambahnya dengan ibadah sunnah.”
“Alhamdulillah..”
Tiba-tiba jauh di ujung taman ia melihat sebuah pintu yang sangat indah. Pintu itu terbuka. Dan ia melihat beberapa wanita yang berada di taman mulai memasukinya satu persatu.
“Ayo, kita ikuti mereka.” kata wanita itu sambil setengah berlari.
“Apa di balik pintu itu?” katanya sambil mengikuti wanita itu.
“Tentu saja surga, saudariku” larinya semakin cepat.
“Tunggu…tunggu aku..” ia berlari namun tetap tertinggal.
Wanita itu hanya setengah berlari sambil tersenyum padanya. Ia tetap tak mampu mengejarnya meski ia sudah berlari. Ia lalu berteriak, ” Amalan apa yang telah kau lakukan hingga kau begitu ringan?”
“Sama denganmu, saudariku.” jawab wanita itu sambil tersenyum.
Wanita itu telah mencapai pintu. Sebelah kakinya telah melewati pintu. Sebelum wanita itu melewati pintu sepenuhnya, ia berteriak pada wanita itu, “Amalan apalagi yang kau lakukan yang tidak kulakukan?”
Wanita itu menatapnya dan tersenyum. Lalu berkata, “Apakah kau tak memperhatikan dirimu apa yang membedakan dengan diriku?”
Ia sudah kehabisan napas, tak mampu lagi menjawab.
“Apakah kau mengira Rabbmu akan mengijinkanmu masuk ke surgaNya tanpa jilbab menutup auratmu?”
Tubuh wanita itu telah melewati pintu, tapi tiba-tiba kepalanya mengintip keluar, memandangnya dan berkata, “Sungguh sangat disayangkan amalanmu tak mampu membuatmu mengikutiku memasuki surga ini. Maka kau tak akan pernah mendapatkan surga ini untuk dirimu. Cukuplah surga hanya sampai di hatimu karena niatmu adalah menghijabi hati.”

Ia tertegun..lalu terbangun..beristighfar lalu mengambil air wudhu. Ia tunaikan sholat malam. Menangis dan menyesali perkataannya dulu..berjanji pada Allah sejak saat itu ia akan menutup auratnya.

****

Arina tidak dapat tidur malam itu karena kata-kata “Apakah kau mengira Rabbmu akan mengijinkanmu masuk ke surgaNya tanpa jilbab menutup auratmu?” terus-menurus terngiang di telinganya.

Arina merasa hidupnya sudah melenceng jauh dariNya, meskipun kini Arina berusaha keras untuk menjadi lebih baik tapi Arina selalu bertanya pada dirinya sendiri  apakah Allah akan mengampuninya? apakah dia masih punya kesempatan untuk memulai dari titik nol? Apakah masih ada kesempatan baginya untuk memperoleh surgaNya?

Sumber : Akhwatmuslimah.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s