1

“Pangeran dan Si Buruk Rupa”

Alkisah di sebuah negeri antah berantah, hiduplah seorang gadis yang buruk rupa, namun walaupun demikian hati dan budipekertinya sangatlah lembut dan suka menolong. Ia hidup sendiri di sebuah rumah kecil nan asri di pinggiran sebuah hutan.

Pada suatu hari, seorang pangeran pergi berburu ke hutan tersebut. Ketika berusaha mengejar rusa buruannya, sang pangeran terpisah dari para ponggawanya. Naasnya seekor lebah berbisa menyengatnya, konon lebah tersebut dapat menyebabkan kebutaan dan hilang ingatan bagi siapapun yang disengatnya, termasuk sang pangeran.

“Dimana aku? Kenapa gelap? Kenapa aku tƌk bisa melihat?” Teriak pangeran panik ketika ia tersadar dari pingsannya.

“Tenang tuan, jangan takut, anda tersengat lebah berbisa dan sekarang anda berada di rumah saya, nama saya Gharra” ujar si gadis berusaha menenangkan sang pangeran.

Semenjak itu sang gadis merawat pangeran dengan baik. Hari demi hari, pada akhirnya sang pangeran jatuh cinta pada kelembutan dan kebaikan hati Gharra si gadis buruk rupa.

Karena ketelatenan sang gadis, merawat dan mengobati sang pangeran, akhirnya pangeran dapat melihat kembali, bahkan ia dapat mengingat kembali siapa ia sebenarnya. Namun apa yang terjadi, betapa kagetnya sang pangeran ketika ia melihat betapa buruk rupa gadis yang telah membuatnya jatuh cinta selama ini tersebut.

Sang pangeran kecewa, lalu pergi begitu saja meninggalkan sang gadis yang telah merawatnya itu sendiri dan kembali ke istana.

Pesta meriah untuk menyambut kembalinya sang pangeran pun di gelar, gadis-gadis muda berlomba berdandan untuk memikat hati sang pangeran yang dikabarkan tengah mencari calon pendamping hidup.

Setiap kali pangeran mendekati mereka, tidak ada satu pun yang dapat membuat pangeran jatuh hati. Ia merasa ada bagian dari dirinya yang hilang.

Sang pangeran menyadari, bahwa semua gadis jelita itu yang menginginkannya hanya karena mereka tahu kalau ia seorang pangeran yang kaya dan rupawan. Sedangkan Gharra mencintainya ketika ia berada dalam titik terendah dalam hidupnya, buta dan tƌk memiliki apapun.

Cinta sejati adalah mencintai seseorang sepenuhnya sebagai seorang manusia. Sang pangeran pun baru menyadari kesalahan terbesarnya meninggalkan seseorang yang benar-benar mencintainya, bukan rupanya ataupun kekuasaan dan kekayaannya.

**

Gharra sangat sedih ketika sang pangeran pergi, ia mengira laki-laki tersebut berbeda dari laki-laki lainnya, namun ternyata sama, setelah melihat buruk rupanya maka seolah hilanglah segala kebaikannya.

Pagi itu ia bersiap-siap untuk meninggalkan tempat tinggalnya itu untuk selamanya, karena tempat itu memberikan terlalu banyak kenangan baginya, setiap sudut mengingatkannya pada sang pangeran yang telah pergi meninggalkannya.

Namun tiba-tiba, sebuah suara yang amat ia kenal terdengar lirih “Gharra, maafkan aku, maafkan kekeliruanku, kamulah yang aku mau, jangan pergi”. Sang pangeran datang dengan sekuntum bunga mawar merah kesukaannya.

Gharra terpaku dan membisu, air mata bahagia meleleh dipipinya, seolah ia tƌk percaya apa yang dilihat dan didengarnya.

Itulah pertama kalinya pangeran melihat Gharra sangat cantik dimatanya. Sang pangeran kini telah benar-benar dewasa, ia telah dapat menggunakan mata hatinya lebih ketimbang kedua bola matanya.

“Maukah kau menikah denganku?” Tanya sang pangeran.

Kerinduan yang membuncah seolah terlepaskan, Gharra berlari ke pelukan sang pangeran seraya berbisik “iya, aku mau”.

****

Advertisements
0

“Manajemen Resiko”

collision-2-cartoon-cars-hitting-each-otherPada hari minggu kemarin, dalam kodisi macet berat karena banjir dan hujan sangat deras, mobil saya menabrak sebuah mobil di depan saya. Mobil saya hanya mengalami kerusakan pada bemper depan, sedangkan mobil yang saya tabrak rusak lumayan parah karena tertabrak dari belakang dan kemudian menabrak mobil lain di depannya.

Ketika dihadapkan kepada hal-hal seperti inilah kita akan merasakan betapa pentingnya arti sebuah polis asuransi. Kehidupan ini sangat penuh dengan resiko, banyak hal dapat kita lakukan berkaitan dengan manajemen resiko, kita dapat menghilangkannya, menguranginya, mengabaikannya atau memindahkan resiko tersebut. Tergantung dari jenis resiko apa yang kita hadapi, menghilangkan mungkin menjadi pilihan yang paling baik jika bisa tentunya, namun sayangnya  tidak semua resiko hidup dapat kita hilangkan, terutama jika resiko tersebut berkaitan dengan sesuatu diluar diri dan kendali diri kita sendiri. Asuransi merupakan salah satu cara dalam manajemen resiko, dalam hal ini dengan memindahkan resiko yang mungkin kita hadapi kepada perusahaan asuransi.

Bisa dibayangkan berapa banyak biaya yang harus saya keluarkan jika saya tidak memiliki polis asuransi untuk kendaraan saya. Hanya dengan waktu klaim tidak lebih dari 15 menit mobil saya maupun yang tertabrak dapat masuk ke bengkel untuk mendapatkan perbaikan.

Asuransi dalam Undang-Undang No.2 Th 1992 tentang usaha perasuransian adalah perjanjian antara dua pihak atau lebih, dengan mana pihak penanggung mengikatkan diri kepada tertanggung, dengan menerima premi asuransi, untuk memberikan penggantian kepada tertanggung karena kerugian, kerusakan atau kehilangan keuntungan yang diharapkan atau tanggung jawab hukum pihak ke tiga yang mungkin akan diderita tertanggung, yang timbul dari suatu peristiwa yang tidak pasti, atau memberikan suatu pembayaran yang didasarkan atas meninggal atau hidupnya seseorang yang dipertanggungkan.

Badan yang menyalurkan risiko disebut “tertanggung”, dan badan yang menerima risiko disebut “penanggung”. Perjanjian antara kedua badan ini disebut kebijakan: ini adalah sebuah kontrak legal yang menjelaskan setiap istilah dan kondisi yang dilindungi. Biaya yang dibayar oleh “tertanggung” kepada “penanggung” untuk risiko yang ditanggung disebut “premi”. Ini biasanya ditentukan oleh “penanggung” untuk dana yang bisa diklaim di masa depan, biaya administratif, dan keuntungan.

Bermacama-macam aset milik kita yang mempunyai nilai ekonomi dapat diasuransikan, yang perlu diperhatikan adalah asuransikanlah pertama kali sesuatu yang memiliki nilai ekonomi dan resiko paling tinggi, karena pada dasarnya asuransi mengganti kerugian yang sifatnya ekonomi, sementara aspek lain yang sifatnya emotional tentu tidak ada satu pun perusahan asuransi di dunia ini yang dapat meng-cover-nya. Kemudian yang tidak kalah penting adalah kecermatan dalam memilih perusahaan asuransi yang akan kita percaya untuk memindahkan resiko yang kita miliki. Selanjutnya fahami pula kondisi, persyaratan dan poin-poin apa saja yang dapat kita klaim didalam kontrak polis asuransi. Jangan sampai kelak dikemudian hari kita meng-klaim sesuatu yang tidak tercantum didalam polis, jumlah premi yang kita bayarkan sangat berkaitan erat dengan hal tersebut.

Jadi teringat waktu saya belajar singkat di Jepang, salah satu programnya adalah sejenis magang di sebuah perusahaan asuransi untuk hewan, namanya NOSAI, tentu saja sebagai dokter hewan, saya tidak ditempatkan dibagian adminstrasinya, melainkan di sebuah klinik milik dari NOSAI.

Di depan klinik ini berjejer mobil dengan jenis dan warna yang sama. Setiap pagi dokter hewan datang, melakukan absensi seperti biasa halnya orang bekerja, kemudian mereka mengunjungi bagian data untuk meminta daftar peternak mana saja yang harus dia kunjungi hari itu. Bagian data bertugas menerima laporan dari peternak, mengkompulir dan memisahkannya, sehingga setiap pagi setiap dokter hewan tersebut menerima list nama peternak, alamat dan keluhannya.

Satu orang dokter hewan, satu unit mobil, sebelum berangkat dokter hewan membaca list peternak yang harus ia datangi dan keluhannya, hal ini dimaksudkan untuk menentukan urutan urgensi yang harus ia kunjungi terlebih dahulu dan untuk memeriksa ketersediaan peralatan dan obat-obatan di dalam mobilnya yang mungkin ia butuhkan berkaitan dengan keluhan. Jika ada yang dirasa kurang, ia akan memasukan form permintaan obat atau alat ke bagian gudang persediaan dan tidak lama kemudian petugas persediaan akan memberikannya sesuai yang diminta.

Saya duduk didepan bersama seorang dokter hewan muda dan cantik bernama Kawasaki, “Seperti merk motor saja” dalam hati saya. Matanya kecil dan pipinya merah, sangat ramah dan mudah tersenyum, sayangnya ia sama sekali tidak berbahasa inggris dan saya tidak berbahasa Jepang, alhasil kita berdua bungkam selama perjalanan.

Ketika sampai di kandang, ia tidak mencari pemiliknya, ia mengambil buku rekording yang selalu ada di dekat pintu, kemudian melihat riwayat pengobatan ternak yang ada di list yang ia bawa, langsung memeriksanya dan memberikan treatment yang dibutuhkan, setelah itu selain ia pun mencatat tindakan yang ia lakukan di list yang ia bawa, ia juga mencatatanya di buku rekording peternak dan menyimpan kembali buku tersebut di dekat pintu, sehingga dokter hewan manapun yang nanti datang kemudian hari dapat membacanya di rekording tersebut.

Saya hanya mengamati dan menerka-nerka, diagnosa ataupun pengobatan yang ia lakukan, bagaimana tidak, semua tulisan yang ia tulis adalah kanji, begitu pula dengan tulisan yang ada dalam botol obat-obatan yang ia injeksikan. Di akhir biasanya dia membuka kamus elektriknya kemudian mengetik diagnosa jepangnya, lalu memperlihatkan bahasa inggrisnya kepada saya. Hal ini terjadi karena semua nama penyakit dan semua struktur anatomi hewan sampai yang sekecil-kecilnya mereka memiliki nama sendiri dalam bahasa jepang, tidak memakai bahasa latin atau inggris.

Setelah semua selesai, kami mampir di Lawson, untuk saya membeli makan siang, sementara Kawasaki sendiri membawa bekal dari rumah tentunya. Setelah istirahat makan siang, dokter hewan tersebut membuat laporan kegiatannya untuk hari itu dan kemudian berdiskusi dengan dokter hewan yang lain tentang kasus-kasus yang mereka hadapi dilapangan di hari itu. Menyenangkan, bukan? Semuanya sangat teratur dan fokus, setiap orang melaksanakan tugasnya sesuai kapasitas, tidak ada dokter hewan yang mengurus proyek, pengadaan, pengecoran jalan, rehab kantor dan sebagainya. Jika suatu pekerjaan dilakukan oleh akhlinya maka hasilnya akan jauh lebih baik.

MoneyCow-215x111Satu hal yang sangat penting, ternak adalah aset berharga bagi seorang peternak, peternak akan berurai air mata ketika ternaknya tidak dapat diselamatkan, sesuatu yang sangat tidak ingin kita lihat, apalagi bagi seorang dokter hewan. Dengan adanya asuransi untuk ternak, akan mendorong dokter hewan untuk lebih fokus pada treatment terbaik tanpa harus memikirkan apakah obat atau tindakan yang ia lakukan akan terlalu mahal untuk peternak atau tidak,  peternak tidak harus memikirkan berapa yang harus ia bayar untuk mengganti obat dan jasa dokter hewan, bahkan jika dokter hewan memutuskan bahwa ternaknya harus “ditidurkan” karena penyakitnya menular atau tidak dapat disembuhkan maka peternakpun akan tetap dapat tidur nyenyak di malam hari karena perusahaan asuransi akan mengganti semua kerugiannya.

Semoga tidak lama lagi di negara kita tercinta ini, dapat segera memiliki sistem seperti itu, bahkan lebih baik lagi jika mungkin. Tidak ada yang tidak mungkin, InsyaAllah.

Seperti dilansir Tribun.Com, 30 September 2012, “Mulyadi, Direktur Pembiayaan Pertanian Direktorat Jenderal (Ditjen) Prasarana dan Sarana Kementan menuturkan, Kementan akan melanjutkan uji coba penerapan asuransi pertanian tahun 2013. “Program asuransi diperluas untuk ternak sapi,” ujarnya kepada Kontan akhir pekan ini. Mulyadi melanjutkan, Kementan mulai menerapkan program asuransi bagi ternak sapi pada akhir tahun 2013 mendatang. “Asuransi ternak difokuskan bagi petani yang ambil Kredit Usaha Pembibitan Sapi (KUPS),” ujarnya. Menurut Mulyadi, premi asuransi ternak sapi adalah sebesar 1,5% dari nilai pembelian ternak sapi. Untuk pembayaran premi dilakukan oleh Bank pelaksana program KUPS. Untuk Bank pelaksana KUPS itu adalah: BRI, BNI, Bank Bukopin, Bank Jatim, Bank Jateng, BPD DIY, Bank Nagari, dan Bank Bali. Mulyadi menuturkan, untuk lokasi penerapan asuransi ternak sapi masih dalam tahap pembicaraan dengan Bank pelaksana KUPS. Namun, selama ini daerah yang menjadi realisasi program KUPS adalah Jawa Timur, NTB, Yogyakarta, dan Jawa Tengah”.

 

 

 

http://id.wikipedia.org/wiki/Asuransi

http://www.tribunnews.com/2012/09/30/ternak-sebentar-lagi-bisa-diasuransikan

http://www.google.co.id/imgres?hl=en&sa=X&tbo=d&biw=1366&bih=604&tbm=isch&tbnid=Buj9xGi-XZvPCM:&imgrefurl=http://www.articlesbase.com/insurance-articles/uninsured-motorist-coverage-a-closer-look-1094919.html&docid=Aklrr-o_BX-HpM&imgurl=http://atlantaplanningguys.com/wp-content/uploads/2009/08/collision-2-cartoon-cars-hitting-each-other.jpg&w=602&h=397&ei=tpzbUPL5H4K8rAesv4GQBA&zoom=1&iact=hc&vpx=192&vpy=187&dur=1933&hovh=182&hovw=277&tx=168&ty=103&sig=106299272275716521618&page=1&tbnh=138&tbnw=210&start=0&ndsp=20&ved=1t:429,r:8,s:0,i:109

0

“Standing in The Light Does Not Require a Sturdy Spine Just a Courageous Soul”

imagesUmur 17 tahun mungkin dianggap sebagai gerbang masuk dari masa remaja ke masa dewasa, pada umur itulah saya pertama kali saya didiagnosa menderita Scoliosis.

Scoliosis adalah suatu kelainan pada tulang belakang, dimana tulang belakang yang seharusnya lurus, pada kondisi ini membelok ke kiri atau kanan, dapat membentuk huruf “S” atau “C”.

Sebenarnya Scoliosis berasal dari bahasa Yunani yang berarti bengkok, menurut “The National Scoliosis Fondation” USA, Scoliosis ditemukan pada 4,5 % populasi dan lebih banyak diderita oleh  perempuan dibanding laki-laki atau sekitar 2:1.

Pada waktu itu, saya sedang belajar sendiri di kamar, membaca buku pelajaran biologi, yaitu bab mengenai kelainan-kelainan pada tulang belakang, waktu itu tanpa maksud apa-apa saya melihat diri saya sendiri pada cermin dengan seksama, namun baru saya menyadari kalau pundak kanan dan kiri saya tidak simetris, sehingga berdasarkan buku yang saya baca, dengan yakin saya menyimpulkan bahwa saya menderita scoliosis.

Kemudian saya segera memberitahukan hal tersebut kepada ibu saya, ibu pun kaget karena baru menyadari hal ini. Esok harinya kami menemui dokter ahli orthopedi di RS. Halmehera Siaga, Bandung. Setelah dilakukan rongent, dokter menyatakan bahwa scoliosis saya telah mencapai 43°, sehingga harus dilakukan operasi untuk memasang rods dan screws. Andai saja curve pada tulang punggung saya kurang dari 40° dapat dilakukan treatment lain tanpa operasi.

Mendengar diagnosa dokter tersebut, tentu saja kami terkejut. Kami tidak percaya begitu saja, kemudian kami menemui dokter ahli orthopedi di RSPAD Gatot Subroto, Jakarta untuk memperoleh second opinion. Namun,hasilnya sama yaitu “operasi”, ayah ibu saya sangat alergi dengan kata-kata itu, ketika kakak saya mengalami komplikasi dalam persalinan yang mengharuskannya menjalani operasi caesar saja sudah membuat ibu saya hampir pingsan, apalagi ini, sebuah operasi besar dengan tingkat resiko yang tinggi dan membutuhkan recovery bulanan. Belum lagi biaya yang dibutuhkan untuk sebuah operasi besar bukanlah main-main tentunya.

Kami meminta saran dokter tentang tindakan apa yang dapat dilakukan jika kami menghindari operasi, maka dokter memberikan saran menggunakan brace, sebenarnya brace ini digunakan untuk penanganan scoliosis dengan curve antara 20-40°, kemudian kami setuju untuk dibuatkan alat tersebut.

Sampai sekarang saya masih ingat, saya berada dalam sebuah ruangan yang mirip bengkel, dengan macam-macam alat berat, kaki palsu, tangan palsu dan lain-lain. Petugas melumuri tubuh saya dengan semen putih, dan membiarkannya sampai mengering dengan maksud untuk membuat cetakan untuk brace saya.

Brace itu terbuat dari apa ya, entahlah sesuatu yang cukup berat dengan beberapa besi dan perekat, sangat tidak nyaman untuk dikenakan, namun dokter mengharuskan saya memakainya 23 jam sehari. brace

Dulu saya merasa malu mengenakannya, terutama untuk pergi ke sekolah, bayangkan saja, waktu itu saya adalah seorang remaja putri berusia 17 tahun, tidak elok dilihat dan tidak nyaman dirasa pula. Setiap 6 bulan sekali saya harus melakukan kontrol untuk mengecheck pertambahan curve.

Menurut dokter, jika dibiarkan tidak dilakukan tindakan pembedahan, maka kemungkinan terburuk adalah curve akan bertambah seiring waktu, dikhawatirkan akan mengganggu saraf tulang belakang, kita tahu apa saja kemungkinan jika hal itu terjadi. Selain masalah syaraf, tulang rusuk yang terganggu karena pembengkokan tersebut dapat mengganggu kerja optimal paru-paru dan jantung.

Setiap hari selalu dihantui rasa takut akan apa yang diutarakan oleh dokter tersebut, apalagi jika sudah waktu kontrol datang.

Suatu waktu, ketika saya sedang menuntut ilmu di sebuah universitas di kota hujan, Bogor. Saya hendak mandi dan menaruh brace di belakang pintu kamar kos,teman saya tiba-tiba datang dan membuka pintu dengan kencang sehingga menghantam brace tersebut,bagian yang bukan besinya hancur berkeping, teman saya sangat kaget waktu itu dan saya pun tak kalah kagetnya, namun saya berkata “sudah, ga apa-apa, jangan khawatir,  lagian saya juga bosen pakainya, pegal dan sakit, sangat tersiksa, sebenernya ingin berhenti mengenakannya, tapi tentu tidak ada alasan yang tepat, ini adalah alasan yang sempurna untuk berhenti mengenakannya, ha ha ha.. ”. Teman saya pun terlihat lega dengan reaksi saya.

Begitulah ceritanya, teman saya tidak hanya telah menghancurkan brace namun juga menghancurkan kata “why me?” dan “what happen next?”dari dalam diri saya.

Akhirnya saya memutuskan untuk berhenti mengkhawatirkan apa yang belum terjadi, saya percayakan diri dan masa depan saya pada yang Maha Kuasa. I start to live my life every second as if I’m a perfectly healthy woman, saya bersyukur dan bahagia dengan saya apa adanya. Mungkin yang sedikit menggangu aktifitas kerja saya adalah saya tidak dapat berdiri untuk waktu yang lama, it hurt my back, tapi selain itu, I’m absolutly fine, Alhamdulillah.

Seperti kata pepatah barat, untuk berdiri tegak menyongsong mentari tidak dibutuhkan tulang punggung yang kuat, hanya diperlukan jiwa yang berani 🙂

***

http://kidsgen.blogspot.com/2010/12/bahaya-dan-fakta-menarik-skoliosis-yang.html

http://www.news-medical.net/health/What-is-Scoliosis-%28Indonesian%29.aspx

0

” Tiga Katagori Teman “

Meski telah berhijab hampir 3 minggu, namun hari itu adalah hari pertamanya muncul di “depan publik”, karena pada hari itu Marlina ditugaskan atasannya untuk mewakilinya dalam sebuah meeting.

Pengalaman hari itu sungguh luar biasa bagi Marlina, dari semua respon teman dan kenalannya, secara garis besar dapat ia katagorikan menjadi 3 katagori.

Katagori yang pertama adalah teman dan kenalannya yang berucap hamdallah seraya memeluk penuh haru serta pancaran mata yang menggambarkan kebahagiaan dan ikut merasakan betapa merasa beruntungnya Marlina karena masih diberikan kesempatan untuk menunaikan salah satu kewajiban bagi seorang muslimah sebelum jatah hidupnya berakhir. Hmmm.. Sangat mendukung dan mendorong untuk lebih dekat dan mencintai Sang Maha Kuasa.

Katagori yang kedua adalah teman dan kenalan yang biasa saja, dengan kata lain seolah “It’s not a big deal, memang sudah seharusnya begitu”. Hmmm.. Cool ! , membuat Marlina nyaman, serasa tidak ada yg berubah, mereka peduli what’s inside her, not how she looks.

Katagori yang ketiga adalah teman dan kenalan yang paling keren, pada katagori ini ada yang bilang “ihh.. Kamu cantikan ga pake kerudung!”, atau “Selamat yaaa bu haji, O ya, sebenernya kamu sih lebih lucu ga pake jilbab lho” dan ada lagi yang memandang dengan tatapan seperti kecewa sembari bilang “kamu koq berubah”. Hhmm.. untuk katagori ini Marlina hanya membalasnya dengan senyuman, sampai pada satu orang Marlina keceplosan menjawab dengan suara rendah “Biar ga lucu lagi juga, asal lucu dihadapan Allah” sampai salah satu temannya bilang “kayanya Marlin salah minum obat ya?” …”Ya ampuun Ninuuu, seburuk itukah aku dimata temen-temen selama ini?” seru Marlin kepada sahabatnya Ninu.

Katagori ketiga tersebut sempat membuat Marlina merasa tidak nyaman, “Ninu sholat yu” ajak Marlina. Sehabis wudhu Marlina membetulkan kerudung birunya di depan cermin, dan tiba-tiba sirnalah rasa tidak nyaman yang sempat bergelayut, karena ia melihat dirinya sendiri ternyata lebih cantik dengan berkerudung, “Marlina seperti inilah seharusnya dari dulu” gumamnya dalam hati, hijab adalah bukti dari ketaatan kepada Rabb, dan hijab dimaksudkan untuk menyembunyikan keindahan bukan untuk yang lain. Marlina kemudian meninggalkan cermin persegi empat itu dan melangkah dengan senyum penuh kebahagiaan.

****

0

“Sahabatku dan Ramen”

IMG-20121126-01601Sore itu langit mendung, Arina yang sangat menggemari mie khas Jepang alias ramen, mengajak kedua temannya Abil dan Hakiem untuk mencicipi ramen di kedai baru di seberang kantornya.

Seperti biasa mereka bertiga memilih menu yang berbeda agar tahu menu mana yang juara di tempat tersebut.

“Tadi malam aku bermimpi, pergi umroh bertiga bersama almarhumah mamah dan teteh, terus aa dari Indonesia telepon, mengabarkan bahwa Kang Asep yang tengah sakit keras meninggal dunia” Arina memulai ceritanya sembari menunggu pesanan datang, kedua temannya tidak berkomentar apapun, bukan berarti tidak mendengarkan atau tidak peduli, both of them just dont know what to say sepertinya.

Kemudian Arina tiba-tiba bertanya “by the way, sebenernya kalau pake kerudung itu bener-bener wajib kah?”

Lalu kedua temannya menjawab dengan serempak dan tegas “Wajib!”

“Kalau memang wajib dan tak tertawarkan, terus mengapa banyak orang yang mengerti agama tapi tidak berjilbab? terus mengapa …….yang merupakan salah satu putri dari seseorang yang sering memberikan ceramah agama baik di TV atau media lainnya tidak berkerudung? apa ayahnya tidak menyuruhnya untuk berhijab?” Tanya Arina bertubi-tubi.

Mengapa Arina hari itu tiba-tiba terlihat sangat antusias bertanya seputar jilbab pada kedua temannya? Ternyata malam sebelumnya Arina tidak dapat tidur setelah membaca sebuah kisah yang berjudul “Jilbab Hati”, ini ceritanya:

***

Ada seorang wanita yang dikenal taat beribadah. Ia kadang menjalankan ibadah sunnah. Hanya satu kekurangannya. Ia tak mau berjilbab. Menutup auratnya. Setiap kali ditanya ia hanya tersenyum dan menjawab, “Insyaallah. Yang penting hati dulu yang berjilbab.” Sudah banyak orang yang menanyakannya maupun menasehatinya. Tapi jawabannya tetap sama.
Hingga di suatu malam…

Ia bermimpi sedang di sebuah taman yang sangat indah. Rumputnya sangat hijau, berbagai macam bunga bermekaran. Ia bahkan bisa merasakan segarnya udara dan wanginya bunga. Sebuah sungai yang sangat jernih hingga dasarnya kelihatan, melintas di pinngir taman. Semilir angin pun ia rasakan di sela-sela jarinya. Ia tidak sendiri. Ada beberapa wanita disitu yang terlihat jjuga menikmati keindahan taman. Ia pun menghampiri salah satu wanita. Wajahnya sangat bersih, seakan-akan memancarkan cahaya yang sangat lembut.
“Assalamualaikum, saudariku..”
“Wa alaikumsalam.. Selamat datang, saudariku.”
“Terima kasih. Apakah ini surga?”

Wanita itu tersenyum.
“Tentu saja bukan, saudariku. ini hanyalah tempat menunggu sebelum ke surga.”
“Benarkah? Tak bisa kubayangkan seperti apa indahnya surga jika tempat menunggunya saja sudah seindah ini.”

Wanita itu tersenyum lagi.
“Amalan apa yang bisa membuatmu kemari, saudariku?”
“Aku selalu menjaga waktu sholat dan aku menambahnya dengan ibadah sunnah.”
“Alhamdulillah..”
Tiba-tiba jauh di ujung taman ia melihat sebuah pintu yang sangat indah. Pintu itu terbuka. Dan ia melihat beberapa wanita yang berada di taman mulai memasukinya satu persatu.
“Ayo, kita ikuti mereka.” kata wanita itu sambil setengah berlari.
“Apa di balik pintu itu?” katanya sambil mengikuti wanita itu.
“Tentu saja surga, saudariku” larinya semakin cepat.
“Tunggu…tunggu aku..” ia berlari namun tetap tertinggal.
Wanita itu hanya setengah berlari sambil tersenyum padanya. Ia tetap tak mampu mengejarnya meski ia sudah berlari. Ia lalu berteriak, ” Amalan apa yang telah kau lakukan hingga kau begitu ringan?”
“Sama denganmu, saudariku.” jawab wanita itu sambil tersenyum.
Wanita itu telah mencapai pintu. Sebelah kakinya telah melewati pintu. Sebelum wanita itu melewati pintu sepenuhnya, ia berteriak pada wanita itu, “Amalan apalagi yang kau lakukan yang tidak kulakukan?”
Wanita itu menatapnya dan tersenyum. Lalu berkata, “Apakah kau tak memperhatikan dirimu apa yang membedakan dengan diriku?”
Ia sudah kehabisan napas, tak mampu lagi menjawab.
“Apakah kau mengira Rabbmu akan mengijinkanmu masuk ke surgaNya tanpa jilbab menutup auratmu?”
Tubuh wanita itu telah melewati pintu, tapi tiba-tiba kepalanya mengintip keluar, memandangnya dan berkata, “Sungguh sangat disayangkan amalanmu tak mampu membuatmu mengikutiku memasuki surga ini. Maka kau tak akan pernah mendapatkan surga ini untuk dirimu. Cukuplah surga hanya sampai di hatimu karena niatmu adalah menghijabi hati.”

Ia tertegun..lalu terbangun..beristighfar lalu mengambil air wudhu. Ia tunaikan sholat malam. Menangis dan menyesali perkataannya dulu..berjanji pada Allah sejak saat itu ia akan menutup auratnya.

****

Arina tidak dapat tidur malam itu karena kata-kata “Apakah kau mengira Rabbmu akan mengijinkanmu masuk ke surgaNya tanpa jilbab menutup auratmu?” terus-menurus terngiang di telinganya.

Arina merasa hidupnya sudah melenceng jauh dariNya, meskipun kini Arina berusaha keras untuk menjadi lebih baik tapi Arina selalu bertanya pada dirinya sendiri  apakah Allah akan mengampuninya? apakah dia masih punya kesempatan untuk memulai dari titik nol? Apakah masih ada kesempatan baginya untuk memperoleh surgaNya?

Sumber : Akhwatmuslimah.com