0

“Istana Bung Hatta Bukittinggi”

Sepanjang perjalanan dari Kota Padang ke Kota Bukittinggi, sang pemandu wisata bernama M. Zham menceritakan berbagai hal tentang ranah Minang, mulai dari sejarah, kebudayaan, kuliner sampai legenda. Meskipun ia orang Batak, namun ia mengetahui banyak hal tentang Sumatera Barat dengan detil, mungkin karena itu ia bisa bekerja sebagai pemandu wisata di Sumbar meskipun bukan orang Minang.

Mohammad Hatta, salah satu tokoh kelahiran Bukittinggi yang diceritakannya menarik perhatian saya, mendengarkannya dengan seksama membuat saya berpikir kemana saja saya pas pelajaran sejarah selama zaman sekolah.

Bangunan bersejarah di Kota Bukittinggi salah satunya adalah Istana Bung Hatta yang terletak di pusat Kota Bukittinggi, tepat di depan Jam Gadang.

Pada zaman penjajahan Jepang gedung ini dijadikan tempat kediaman Panglima Pertahanan Jepang, kemudian pernah menjadi Istana Wakil Presiden RI Pertama Drs. Mohammad Hatta.

Pada bulan Desember 1948, ketika Yogjakarta dikuasai oleh Belanda, gedung ini selama 7 bulan lamanya menjadi Pusat Pemerintahan Darurat Republik Indonesia sampai dengan bulan Juni 1949.

Sekarang gedung ini digunakan sebagai tempat seminar, pertemuan dan tempat tinggal tamu negara bila berkunjung ke Bukittinggi.

——————————————-***—————————————-

0

“Mencicipi Sate Padang di Ranah Minang”

Apakah anda penyuka sate padang? Begitu pula saya, pertama kali mengenal sate padang yaitu waktu jaman kuliah dahulu, sekitar 16 tahun silam, kebetulan teman satu kosan hampir 70% adalah orang Minang. Pertama kali mencoba sangat aneh dimulut, sama sekali berbeda dengan sate yang biasa saya makan, kesamaannya mungkin adalah sama-sama daging yang ditusuk mungkin ya sementara rasanya jauh berbeda. Namun, anehnya rasa ini membuat kangen, hingga lama-kelamaan sate padang menjadi salah satu makanan favorite saya. Hingga salah satu target kunjungan saya ke Sumatera Barat adalah sate padang.

Sate Mak Syukur (SMS) adalah kedai sate padang yang sangat terkenal, memiliki hampir 10 cabang di Jakarta dan salah satunya berada di MOI (Mall of Indonesia), ingin rasanya saya mencicipi SMS di tempat asalnya, namun sayang, SMS tidak tercantum di agenda perjalanan kami.

Pagi itu acaranya yaitu belanja di Pasar Ateh, salah satu  pasar tradisional yang berada di sebelah timur Jam Gadang, bukannya saya tidak suka belanja, tapi membayangkan kerepotan yang akan saya hadapi dengan barang bawaan yang banyak membuat saya dapat menahan diri agar tidak kalap. Waktu 2 jam yang diberikan untuk berbelanja saya dedikasikan untuk menemani kawan saya hunting sandal, hmmm, mungkin lain kali akan saya ajak dia ke Rajapolah, Tasikmalaya setelah tahu bahwa dia mengoleksi sandal.

Ketika berjalan menuju meeting point saya mencium bau yang sedap, benar saja, sate padang, “Inyiak” namanya (mungkin dalam bahasa Indonesia “enak” kali ya, membuat kesimpulan sendiri, heuheu) meski bukan SMS tapi biarlah pikir saya, akhirnya kami mampir dan memesan 2 porsi untuk bertiga. Ingin tahu bagaimana rasanya ? hmmmm, luar biaso ! enak sangat, kosa kata yang saya miliki tidak cukup untuk menggambarkannya. Nah, di tempat asalnya sate padang kaki lima di pasar pun sangat enak apa lagi SMS yang memang terkenal ya pikir saya lagi.

Dalam bis menuju Danau Maninjau kami menceritakan betapa enaknya sate padang yang tadi kami makan hingga semua sepakat agar Sate Mak Syukur menjadi menu makan siang kami.

Kamipun singgah di SMS, tentu penasaran kan bagaimana pendapat saya mengenai SMS di banding Sate Inyiak tadi ? Sate Mak Syukur memang lezat, rempah pada kuah kentalnya sangat terasa, potongan dagingnya lebih besar dari sate padang yang biasa saya makan di Jawa Barat, kualitas daging yang digunakanpun lebih baik. Pada dinding tergantung foto SBY dan Yusuf Kala beserta istri tengah makan di kedai sate tersebut, hebat ya. Namun kalau boleh jujur, saya lebih menyukai Sate Inyiak Pasar Atas Bukittinggi, namanya selera orang berbeda-beda, mungkin lidah saya lebih menyukai makanan yang harganya lebih miring atau mungkin karena ketika saya makan SMS perut saya sudah kenyang oleh Sate Inyiak, bisa jadi.

0

“Bertandang ke Rumah Gadang”

Jika anda ingin melihat rumah adat Minangkabau maka salah satu tempat yang bisa anda kunjungi adalah Pusat Dokumentasi dan Informasi Kebudayaan Minangkabau yang berada di Kota Padangpanjang, dibagun atas prakarsa dari Bustanil Arifin. Tempat ini menyerupai museum yang menempati sebuah rumah adat Minangkabau yaitu Rumah Gadang Koto Piliang.

Sejarah kebudayaan Minangkabau yang terkenal salah satunya berasal dari Kerajaan Pagaruyung yang mencapai puncak kejayaannya pada masa pemerintahan Adityawarman.

Seorang petugas wanita (terlupakan untuk bertanya namanya) dengan semangatnya menjelaskan berbagai hal tentang seluk-beluk kebudayaan Minangkabau. Menurutnya ada 2 jenis Rumah Gadang, yaitu Rumah Gadang Koto Piliang dan Rumah Gadang Bodi Caniago.

Terdapat perbedaan yang kontras dari kedua suku tersebut, mulai dari sistem pemerintahannya, Koto Piliang menganut Otokratis sementara Bodi Caniago lebih Demokratis, itu sebabnya bentuk rumah adat Bodi Caniago itu datar tidak seperti Koto Piliang yang dilengkapi anjungan, yaitu kamar di sebelah kanan kiri ruangan yang lantainya lebih tinggi dari bangunan utamanya.  Karena di Koto Piliang seseorang yang memiliki kedudukan lebih tinggi harus duduk lebih tinggi pula, sementara di Bodi Caniagao semua orang duduk sama rata dengan siapapun. Pimpinan di Koto Piliang sifatnya turun temurun sedangkan di Bodi Caniago pimpinan ditentukan berdasarkan musyawarah.

Rumah Gadang memiliki beberapa kamar, anehnya kamar-kamar tersebut sangatlah sempit dibandingkan dengan ruang tengah. Pasangan yang baru menikah akan mengisi kamar paling kiri, jika ada pasangan yang menikah lagi maka pasangan yang mengisi kamar paling kanan harus keluar dari rumah gadang artinya harus sudah memiliki rumah sendiri, terus beputar seperti itu, o ya, kamar hanya diisi oleh pasangan dan anak balita, sementara anak gadis semuanya menempati anjungan sebelah kanan dan anak bujang harus tidur di surau.

Di depan rumah gadang terdapat rangkiang yaitu lumbung padi, hebatnya orang Minang sedari dulu perekonomian keluarga mereka sangatlah teratur, buktinya, lumbung padi pun dibagi menjadi 4, ada untuk keperluan sehari-hari, ada untuk upacara adat, ada untuk paceklik dan terakhir untuk menyimpan benih, luar biasa bukan? Bagaimana dengan anda? (koq anda, saya maksudnya :D).

Photo di atas yang berada di paling bawah sebelah kanan, adalah foto saya di salah satu jendela rumah gadang, tadinya ingin bergaya ala Siti Nurbaya, tapi kawan saya yang sangat iseng tidak mau beranjak dari tempat itu walaupun sudah saya usir-usir, alhasil seperti itu jadinya.

0

“Mengunjungi BIG BEN-nya Bukittinggi”

Mengunjungi Kota Bukittinggi, Sumatera Barat tanpa melihat Jam Gadang seperti halnya ke Kota Paris, France (Penulis tidak tahu yang benar Perancis atau Prancis) tanpa melihat menara Eiffel, begitulah kira-kiranya.

Jam Gadang dibuat pada tahun 1926, dengan arsitektur Yazin Sutan Gigi Ameh pada jaman pemerintahan Hindia-Belanda, jam tersebut merupakan hadiah dari Ratu Belanda kepada Sekretaris Fort de Kock kala itu (sekarang Kota Bukit Tinggi) dan peletakan batu pertamanya dilakukan oleh anak sekretaris tersebut yang berusia 6 tahun.

Tinggi dari Jam Gadang adalah 26 meter, dibuat hanya dari kapur dan putih telur tanpa menggunakan campuran semen sama sekali. Terdiri dari empat buah jam yang dikirim langsung dari Rotterdam, Belanda. Jam tersebut digerakan secara mekanik oleh mesin yang hanya dibuat 2 buah di dunia ini yaitu  satu untuk Big Ben di Kota London Inggris dan satu lagi untuk Jam Gadang di Kota Bukit Tinggi, hingga tak salah jika kita sebut Jam Gadang sebagai “Bukittinggi’s Big Ben” atau “Big Ben van Bukittinggi”.

Yang menarik dari Jam Gadang ini adalah kesalahan dalam menuliskan angka Romawi untuk 4, yang seharusnya IV menjadi IIII, sejujurnya saya tidak menyadari akan kesalahan tersebut, mungkin karena waktu itu terlalu sibuk foto-foto, sampai saya membaca literatur mengenai Jam Gadang kemudian baru memperhatikanya.

Bagian atas Jam Gadang pada awalnya berbentuk bulat dan terdapat patung ayam, kemudian pada masa kedudukan Jepang diganti menjadi bentuk klenteng, bentuk rumah adat Minangkabau seperti yang bisa kita lihat sekarang ini ternyata baru dibuat setelah Indonesia Merdeka.

Lokasi berdirinya Jam Gadang kini selain menjadi salah satu destinasi wisata juga dijadikan sebagai titik Nol dari Kota Bukittinggi.

Demikianlah, liputan singkat saya mengenai Jam Gadang alias jam besar, semoga menambah pengetahuan bagi penulis pribadi khususnya, karena seperti kata pepatah bahwa “Jika diibaratkan pengetahuan itu seperti seorang wanita maka membaca adalah cara meminangnya dan menulis cara menikahinya” (heuheu.. pepatah yang selalu membuat saya geli namun benar adanya).

Sumber : Wikipedia