“Kamar 576”

“Tadaima…  Sumimasen, kagi onegaishimasu?” seruku kepada Kobayashi-san, seorang petugas Front Desk. Ia selalu berdandan sangat rapi, jas berwarna gelap, kemeja putih, dasi bermotif  dan sepatu hitam mengkilat  selalu dikenakannya.

Kalau di Indonesia, mungkin ia lebih nampak seperti seorang executive muda ketimbang petugas front desk.

Pakaian yang dikenakan Kobayashi memang merupakan pakaian kerja  pria Jepang pada umumnya, karenanya sedikit sulit menebak pekerjaan atau profesi seseorang, pria khususnya.  Hampir seluruhnya  mengenakan setelan jas rapi dan mayoritas menggunakan angkutan publik.

Pemandangan keluar dari kamar 576

“Okaerinasai”, seperti biasa Kobayashi menjawab sapaanku dengan sangat ramah, lalu menanyakan nomor kamarku, sambil  tersenyum manis, membuat mata sipitnya semakin menyempit.

“Go hiyaku ju nana, onegaishimasu” jawabku lirih, lalu Kobayashi  dengan sigapnya menyerahkan sebuah kunci elektrik berbentuk persegi empat bertuliskan nomor 576, “haii, dozo” .

Meja belajar di kamar 576

Ketika menerima kunci yang diserahnya, saya menjawab dengan lancar “Doumo arigato gozaimasu”, karena hanya itu ungkapan bahasa Jepang yang saya mahir.   Dan tak lupa diikuti dengan anggukan sebagai ungkapan terima kasih, tentu saja anggukan yang bukan hanya sekedar kepala tetapi juga melibatkan setengah badanku .

Tempat tidur di kamar 576

Berjalan menuju lift yang letaknya tidak jauh dari front office, dua orang berbadan tinggi dan berkulit hitam mengenakan celana pendek dan t-shirt berdiri di depan pintu lift, kalau tidak salah keduanya berasal dari Zimbabwe, sebuah negara di Afrika Selatan yang terkenal dengan air terjun Victoria-nya.

Tinggi kedua orang itu sekitar satu setengah tinggi badanku, membuat aku harus menengadah untuk  menjawab sapaannya, “Hello”.

Kalau boleh jujur bau badannya sangat berbeda, sulit diungkapkan dengan kata-kata, mungkin karena baru selesai olah raga, untunglah di lantai 3 keduanya keluar dari lift, membuat aku dapat bernafas lebih lega menuju lantai 5 dimana kamarku berada.

Ini dia kamarku, aku bergumam seraya membuka kunci pintu kamar bertuliskan  567 tersebut.

Tempat sampah di kamar 576

Sebuah kamar berukuran 5×10 meter persegi, dilengkapi dengan sebuah kamar mandi.

Sebuah lemari es kecil, AC yang sekaligus juga merupakan penghangat ruangan saat musim dingin, sebuah televisi 14″ jadul dengan chanel hanya BBC yang bisa dimengerti, selain DVD player, juga terdapat pemutar kaset pita video jadul seperti jaman saya SD nonton film Ari Hanggara atau Megaloman Fire. Tapi tidak perlu khawatir, Kobayashi di front desk menyediakan banyak sekali koleksi film dari yang lawas hingga yang baru for free.

Helm, Masker dan safe deposit box

Fasilitas internet 24 jam non stop yang hampir tidak pernah ada gangguanpun tersedia di kamar ini, dengan kecepatan access yang luar biasa tentunya, hanya saja tidak dapat digunakan untuk mengunduh apapun yang sifatnya ilegal, “piracy is a crime” disini ya bener-bener a crime.

Sebuah kaca, lemari pakaian dan sebuah tempat sampah besar yang mirip lemari plastik, bagian bawah untuk organik trash dan bagian atas untuk non-organic trash.

Cemilan teman belajar

Kamar dilengkapi dengan sebuah helm, satu kotak masker dan escaping protocol and map yang terpampang di pintu baik untuk situasi gempa ataupun kebakaran. Kemudian sebuah Safe deposit box yang dari awal sampai akhir tidak pernah digunakan, bingung habisnya entah apa yang harus saya masukan.


Dan terakhir yang merupakan favoritesaya adalah toilet yang terdapat di dalam kamar mandi. Meskipun bukan toilet super canggih seperti bisa kita temui di hotel atau tempat pertemuan mewah di Jepang yang semuanya serba sensor, namun toilet ini tetap saja canggih, karena di hotel bintang 5 pun di Indonesia tidak pernah saya menemuinya.

I

Gedung dimana kamar 576 berada

Bidet telah di-design berbeda untuk laki-laki atau perempuan, bidet bisa dingin atau hangat, begitu pula dengan dudukannya bisa kita atur temperaturnya, kalau khawatir terdengar suara aneh oleh orang lain, kita pun bisa menyalakan mp. 3 suara guyuran air, he he he…. ada-ada saja, but somehow… I miss that machine …

 

Sumber : foto-foto diambil penulis sendiri di JICA Sapporo International Center

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s