0

Puisi Pagi Ini

Hari ini ku mati,
Perlahan…
Tubuhku ditutup tanah.
Perlahan…
Semua pergi meninggalkanku…

Masih terdengar jelas langkah² terakhir mereka,
Aku sendirian,
Di tempat gelap yang tak pernah terbayang,
Sendiri,
Menunggu pertanyaan malaikat…

Belahan hati,
Belahan jiwa pun pergi.
Apa lagi sekedar kawan dekat atau orang lain.
Aku bukan siapa-siapa lagi bagi mereka…

Sanak keluarga menangis,
Sangat pedih,
Aku pun demikian,
Tak kalah sedih…

Tetapi aku tetap sendiri,
Di sini, menunggu perhitungan.
Menyesal sudah tak mungkin.
Tobat tak lagi dianggap,
Dan maaf pun tak bakal didengar,
Aku benar-benar harus sendiri…

Ya Allah…
Jika Engkau beri aku 1 lagi kesempatan,
Jika Engkau pinjamkan lagi beberapa hari milik-MU,
Untuk aku perbaiki diriku,
Aku ingin memohon maaf pada mereka…

Yang selama ini telah merasakan dzalimku,
Yang selama ini sengsara karena aku,
Tersakiti karena aku…

Aku akan kembalikan jika ada harta kotor ini yang telah kukumpulkan,
Yang bahkan kumakan,
Ya Allah beri lagi aku beberapa hari milik-Mu,
Untuk berbakti kepada Ayah & Ibu tercinta…

Teringat kata-kata kasar & keras yang menyakitkan hati mereka,
Maafkan aku Ayah & Ibu, mengapa tak kusadari betapa besar kasih sayangmu,

Beri juga ya Allah aku waktu untuk berkumpul dengan keluargaku,
Menyenangkan saudara-saudaraku..
Untuk sungguh-sungguh beramal soleh.

Aku sungguh ingin bersujud dihadapan-Mu lebih lama lagi..
Begitu menyesal diri ini.
Kesenangan yang pernah kuraih dulu,
Tak ada artinya sama sekali…

Mengapa kusia-siakan waktu hidup yang hanya sekali itu…?
Andai aku bisa putar ulang waktu itu…

Aku dimakamkan hari ini,
Dan ketika semua menjadi tak termaafkan,
Dan ketika semua menjadi terlambat,
Dan ketika aku harus sendiri…
Untuk waktu yang tak terbayangkan sampai yaumul hisab & dikumpulkan di Padang Mashar…

Puisi Almarhum “Bang Remy Soetansyah,” wartawan senior. wafat 30 Oktober 2012

“ANDAI HARI INI AKU DIMAKAMKAN”
1 Mei 2012
(Renungan utkku, utkmu & utk kita semua)

Advertisements
0

“Are You a Negative Thinker ?”

Kali ini, saya ingin berbagi tips bagaimana menjadi orang yang berpikir lebih positif. Dahulu, boleh dikata saya termasuk a negative thinker, mudah cemas, tidak suka lingkungan atau hal baru dan over thinking terhadap berbagai hal.

Suatu waktu, salah satu keponakan saya diharuskan menyumbangkan satu buah buku tentang motivasi pada saat ospek mahasiswa baru. Hari telah senja, beruntung seorang teman memiliki sebuah buku berjudul “Kedahsyatan Berpikir Positif” karangan A.N. Ubaedy dan memberikannya kepada saya.

Saya belum sempat membacanya tapi pagi itu juga harus dikumpulkan, jadi saya sempatkan meng-copy-nya terlebih dahulu (just for my self :D).

Kalimat yang paling saya suka dalam buku tersebut adalah “Nasibmu tidak ditentukan oleh dimana kamu berada, tetapi apa yang mengisi pikiranmu”.

Meskipun saat ini saya seorang diri di dalam sebuah kamar mess yang berada diantara 13 Ha kebun king grass dan kandang sapi, jika malam hari yang terdengar hanya suara jangkrik, kodok dan makhuk serangga lainnya yg saling bersahutan, namun sama sekali saya tidak merasakan kesepian, saya selalu merasa sibuk dan ramai. Bahkan di saat senggang saya bisa tenggelam ikut ke dalam acara tv cable yg saya tonton, buku yang saya baca, game yang saya mainkan ataupun loncatan minyak goreng di atas wajan panas.

Seperti kata sebuah quote, semuanya tergantung dari apa yg mengisi ruang-ruang pikiran kita, “what consumes your mind, controls your life”.

Buku ini memberikan beberapa tips bagaimana menjadi orang berpikir positif, ini dia :
– Bertindaklah, berjalanlah, berbicaralah, dan berpikirlah seperti orang yang anda kagumi
– Tanamkan dalam-dalam pikiran positif dan bentuk-bentuk keberhasilan dalam benak anda
– Pancarkan sikap yang baik, perasaan yang baik, keyakinan yang kuat dan tujuan hidup yang jelas
– Perlakukan setiap orang yang anda jumpai sebagai orang yang paling penting di dunia
– Usahakan orang yang anda temui merasa dibutuhkan, diperlukan dan dihargai
– Lihatlah hal-hal yang baik dalam diri setiap orang
– Jangan ungkapkan kondisi kesehatan anda kecuali anda sedang dalam kondisi yang baik
– Carilah yang terbaik dari setiap gagasan baru
– Hindari hal-hal sepele atau sia-sia
– Kembangkan sikap mental untuk memberi (pertolongan, kemudahan, bantuan, dst)

Bagaimana ? Asik bukan ? Yuk kita sama-sama coba !

0

“Kamar 576”

“Tadaima…  Sumimasen, kagi onegaishimasu?” seruku kepada Kobayashi-san, seorang petugas Front Desk. Ia selalu berdandan sangat rapi, jas berwarna gelap, kemeja putih, dasi bermotif  dan sepatu hitam mengkilat  selalu dikenakannya.

Kalau di Indonesia, mungkin ia lebih nampak seperti seorang executive muda ketimbang petugas front desk.

Pakaian yang dikenakan Kobayashi memang merupakan pakaian kerja  pria Jepang pada umumnya, karenanya sedikit sulit menebak pekerjaan atau profesi seseorang, pria khususnya.  Hampir seluruhnya  mengenakan setelan jas rapi dan mayoritas menggunakan angkutan publik.

Pemandangan keluar dari kamar 576

“Okaerinasai”, seperti biasa Kobayashi menjawab sapaanku dengan sangat ramah, lalu menanyakan nomor kamarku, sambil  tersenyum manis, membuat mata sipitnya semakin menyempit.

“Go hiyaku ju nana, onegaishimasu” jawabku lirih, lalu Kobayashi  dengan sigapnya menyerahkan sebuah kunci elektrik berbentuk persegi empat bertuliskan nomor 576, “haii, dozo” .

Meja belajar di kamar 576

Ketika menerima kunci yang diserahnya, saya menjawab dengan lancar “Doumo arigato gozaimasu”, karena hanya itu ungkapan bahasa Jepang yang saya mahir.   Dan tak lupa diikuti dengan anggukan sebagai ungkapan terima kasih, tentu saja anggukan yang bukan hanya sekedar kepala tetapi juga melibatkan setengah badanku .

Tempat tidur di kamar 576

Berjalan menuju lift yang letaknya tidak jauh dari front office, dua orang berbadan tinggi dan berkulit hitam mengenakan celana pendek dan t-shirt berdiri di depan pintu lift, kalau tidak salah keduanya berasal dari Zimbabwe, sebuah negara di Afrika Selatan yang terkenal dengan air terjun Victoria-nya.

Tinggi kedua orang itu sekitar satu setengah tinggi badanku, membuat aku harus menengadah untuk  menjawab sapaannya, “Hello”.

Kalau boleh jujur bau badannya sangat berbeda, sulit diungkapkan dengan kata-kata, mungkin karena baru selesai olah raga, untunglah di lantai 3 keduanya keluar dari lift, membuat aku dapat bernafas lebih lega menuju lantai 5 dimana kamarku berada.

Ini dia kamarku, aku bergumam seraya membuka kunci pintu kamar bertuliskan  567 tersebut.

Tempat sampah di kamar 576

Sebuah kamar berukuran 5×10 meter persegi, dilengkapi dengan sebuah kamar mandi.

Sebuah lemari es kecil, AC yang sekaligus juga merupakan penghangat ruangan saat musim dingin, sebuah televisi 14″ jadul dengan chanel hanya BBC yang bisa dimengerti, selain DVD player, juga terdapat pemutar kaset pita video jadul seperti jaman saya SD nonton film Ari Hanggara atau Megaloman Fire. Tapi tidak perlu khawatir, Kobayashi di front desk menyediakan banyak sekali koleksi film dari yang lawas hingga yang baru for free.

Helm, Masker dan safe deposit box

Fasilitas internet 24 jam non stop yang hampir tidak pernah ada gangguanpun tersedia di kamar ini, dengan kecepatan access yang luar biasa tentunya, hanya saja tidak dapat digunakan untuk mengunduh apapun yang sifatnya ilegal, “piracy is a crime” disini ya bener-bener a crime.

Sebuah kaca, lemari pakaian dan sebuah tempat sampah besar yang mirip lemari plastik, bagian bawah untuk organik trash dan bagian atas untuk non-organic trash.

Cemilan teman belajar

Kamar dilengkapi dengan sebuah helm, satu kotak masker dan escaping protocol and map yang terpampang di pintu baik untuk situasi gempa ataupun kebakaran. Kemudian sebuah Safe deposit box yang dari awal sampai akhir tidak pernah digunakan, bingung habisnya entah apa yang harus saya masukan.


Dan terakhir yang merupakan favoritesaya adalah toilet yang terdapat di dalam kamar mandi. Meskipun bukan toilet super canggih seperti bisa kita temui di hotel atau tempat pertemuan mewah di Jepang yang semuanya serba sensor, namun toilet ini tetap saja canggih, karena di hotel bintang 5 pun di Indonesia tidak pernah saya menemuinya.

I

Gedung dimana kamar 576 berada

Bidet telah di-design berbeda untuk laki-laki atau perempuan, bidet bisa dingin atau hangat, begitu pula dengan dudukannya bisa kita atur temperaturnya, kalau khawatir terdengar suara aneh oleh orang lain, kita pun bisa menyalakan mp. 3 suara guyuran air, he he he…. ada-ada saja, but somehow… I miss that machine …

 

Sumber : foto-foto diambil penulis sendiri di JICA Sapporo International Center

0

“Belajar Mendengar”

Ayah dan Ibu Alm.

Dalam perjalanan menuju sebuah tempat meeting saya duduk di depan bersama sopir sementara bos saya duduk di belakang.  Jarak yang harus ditempuh memang cukup jauh, membutuhkan waktu sekitar 3~4 jam. Selama perjalanan kadang saya berbicang dengan bos, kadang saya tertidur, namun  tetap saja belum jua sampai, akhirnya saya mengeluarkan sebuah buku yang belum selesai saya baca yaitu chapter yang bertajuk  “Telinga yang Sabar Mendengar”.

Seorang ayah mengajak anaknya yang baru saja wisuda dari perguruan tinggi ternama duduk-duduk di pekarangan rumahnya sambil mengamati burung-burung yang hinggap silih berganti di pohon. Si anak yang berhasil meraih predikat cum laude  terus bercerita tentang keberhasilannya itu serta rencana-rencana berikutnya setelah wisuda. Sang ayah dengan tekun penuh haru dan bangga. Hingga tiba-tiba sang anak berhenti bercerita karena melihat seekor burung gereja hinggap di dahan pohon yang ada dekat mereka sambil berkicau.

Sang ayah lalu bertanya kepada si anak “Nak, itu apa?”

Si anak menjawab kaget, “Masa ayah tidak tahu, itu kan burung gereja!” lalu mereka mengobrol lagi sementara burung gereja itu masih di sana.

Ditengah perbincangan sang ayah bertanya lagi, “Nak, itu burung apa, sih?”

Si anak kembali menjawab, “Itu burung gereja, Yah”.

Perbincangan dilanjutkan lagi dan si ayah kembali bertanya dengan pertanyaan yang sama. Si anak mulai kesal dan jawabannya hanya dua kata saja, “Burung gereja!”.

Hingga hari semakin sore dan untuk terkhir kalinya sabg ayah bertanya kepada anaknya, “Nak, apakah betul itu burung gereja?”

Maka dengan kesal dan geram si anak berkata kepada ayahnya, “Masa ayah tidak tahu kalau itu burung gereja, daritadi saya sudah katakan bahwa itu burung gereja. Ayah ini bodoh atau pura-pura bodoh!”.

Mendangar jawaban itu, sang ayah tersenyum  sambil berpamitan untuk masuk ke dalam rumah sebentar untuk mengambil sesuatu. Sang anak yang tadinya bangga bercerita tentang dirinya, terpekur dengan muka kesal memandangi ayahnya yang masuk ke dalam rumah.

Selang beberapa menit, sang ayah keluar dengan membawa sebuah diary yang sudah kotor dan lusuh. Dia menunjukan sebuah catatan pribadinya kepada anaknya ini, yang dicatat kira-kira tujuh belas tahun yang lalu, ketika anaknya berumur 4-5 tahun. Pada salah satu halaman terdapat tulisan tangan ayahnya yang menceritakan sebuah kisah.

“Ketika itu, aku dan Calvin anakku yang menginjak usia lima tahun sedang duduk-duduk di beranda gubug kami. Sewaktu aku bercerita tentang pohon, tiba-tiba ada seekor burung gereja hinggap di dahan pohon tersebut. Calvin bertanya apakah yang hinggap itu, dan dia bertanya lagi burung apa, kujelaskan burung itu burung gereja. Calvin terus bertanya tentang rumah burung, makanannya, ibu burung dan sebagainya”.

“Tidak jarang dia bertanya berulang-ulang, untuk pertanyaan yang sama. Terbersit dalam hati kejengkelan, namun tetap kutahan karena di sinilah aku melatih diriku dan berusaha terus menerus untuk mengasihi anakku”.

Penggalan tulisan sang ayah ini membuat sang anak yang duduk diisampingnya menitikan  air mata, karena Calvin itu adalah dirinya sendiri.

***

Tak terasa mata saya pun menjadi berat seperti menahan sesuatu, teringat almarhum ayah saya Salim Sulaeman Ilyas yang wafat hampir 3 tahun silam. Terbayang bagaimana selalu sabarnya ayah mendengar cerita bahagia saya, kebanggaan saya bahkan keluh kesah dan kesedihan saya, sedangkan saya terkadang lupa menanyakan bagaimana keadaan dan perasaan beliau karena terlalu sibuk bercerita tentang diri saya sendiri . Saya sadar betul jika saya mengedipkan mata saat itu maka timbunan air mata yang saya tahan akan jatuh mengalir ke pipi dan sang sopir akan heran kenapa saya menangis begitu pula bos saya yang sudah pasti akan melihat hal itu dari kaca cermin depan. Tidak kehilangan akal, saya ambil dua lembar tisu yang tempatnya tergantung di langit-langit mobil, kemudian saya pura-pura menyeka  hidung sebelum akhirnya menghapus air mata saya. Saya tutup kembali buku itu dan menyimpannya kedalam tas, lalu saya kembali memulai percakapan, “Maaf, Bapak mau sarapan dimana?”.

*Notte : Buku yg dibaca “Life Is Choice” oleh Marpaung Parlindungan.

0

“Kisah Menarik tentang Evaluasi Diri”

Hanya ingin berbagi sebuah cerita menarik dari sebuah buku karangan Parlindungan Marpaung seorang motivator  kelahiran Jambi yang berjudul ”Life is Choice”. Cerita ini  memberi saya banyak inspirasi, semoga juga buat anda, ini dia ceritanya :

Seorang anak datang ke sebuah apotek untuk membeli obat buat orang tuanya. Setelah transaksi, ia minta izin meminjam telepon untuk menelepon seseorang.

“Halo, selamat pagi, dengan Dokter Binsar?” seru si anak membuka pembicaraan di telepon.

“Dokter Binsar, perkenalkan saya Sueb, saya berusia 12 tahun, saya ingin bertanya, apakah saat ini dokter sedang membutuhkan seorang pesuruh dan pemotong rumput atau untuk mengerjakan apa saja di rumah dokter? Saya bersedia bekerja di rumah dokter dengan bayaran berapa saja karena ingin meringankan beban hidup orang tua saya”, lanjut si anak di telepon tersebut.

Dengan muka terkejut, si anak menjawab lagi pertanyaan dari seberang sana “Oh, jadi dokter sudah punya anak yang bekerja di rumah dokter?”

“ Apa dokter puas dengan pekerjaan dia?”

“Hah, dia nantinya akan dijadikan anak angkat? Tentu senang sekali dia ya dok. Terima kasih dokter, selamat pagi”, seru si anak sambil menutup teleponnya.

Ketika pamit meninggalkan apotek, sang pemilik apotek memanggilnya dan mengatakan, “Nak, kalau engkau sedang membutuhkan pekerjaan, bagaimana kalau kau bekerja di tempat ini saja, di sini banyak pekerjaan dengan gaji yang cukup”, ungkap sang pemilik apotek yang sejak tadi rupanya terus mendengarkan pembicaraan si anak dengan Dokter Binsar.

“Oh, terima kasih, bu. Saya saat  ini sedang tidak membutuhkan pekerjaan”, sahut si anak enteng.

“Lho, tapi…bukankah tada saya dengar kau sedang mencari pekerjaan?” sahut si pemilik apotek kaget.

Anak itupun kembali berkomentar, “Bu, saya anak yang bekerja di rumah Dokter Binsar itu. Saya sedang mengecek bagaimana pandangan dokter tersebut terhadap saya selama ini. Syukurlah, semua berjalan lancar dan dokter pun senang dengan cara saya bekerja, bahkan ibu dengar sendiri, mungkin saya akan dijadikan sebagai anak angkatnya”.

****

Itulah kisahnya, Unbelievable indeed! So, what about us? Are we always ready to hear and accept what other people really think about us and our work? Of course, it is sometime painful to hear the truth. My self get a little bit upset as well when people criticized me and what I do, but in fact, we need it, in order to keep our-self on the right track and to let our-self grow to do something better then we have ever done before. Let’s be brave and listen 🙂

Cheers,

0

“Wu Ji Bi Fan”

Merasa sangat ketakutan dengan turnamen yang akan dihadapinya, anak muda belasan tahun itu berlatih terus menerus siang dan malam tanpa mengenal lelah, sampai suatu waktu gurunya mengatakan “Wu Ji Bi Fan”.

Itu merupakan cuplikan dari film Karate kid yang diperankan oleh Jacky Chen sebagai Mr. Han guru bella diri dari Xiao Dre yang diperankan oleh Jaden Smith.

Wu ji bi fan adalah bahasa mandarin yang artinya segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik sekalipun hal tersebut tadinya adalah hal baik. Dalam film itu contohnya “berlatih”, itu adalah hal baik dan malah harus, namun ketika berlebihan maka menjadi tidak lagi baik.

Contoh lain dalam kehidupan misalnya makan dan tidur, manusia manapun tidak akan dapat melangsungkan hidup tanpa makan dan tidur. Manusia harus makan untuk memenuhi kebutuhan sumber energi, sumber nutrisi dan zat-zat penting lainnya yang diperlukan dalam proses metabolisme tubuh. Manusia membutuhkan tidur untuk beristirahat agar tubuh dapat memperbaiki sel-sel yang rusak dan kembali fit setelah seharian beraktifitas.

Namun kedua hal penting tersebut diatas akan menjadi tidak baik ketika berlebihan, baik terlalu lapar ataupun terlalu kenyang, itu sebabnya kita disunahkan untuk makan sebelum lapar dan berhenti sebelum kenyang. Sekarang tidur, terlalu sedikit tidur dan terlalu banyak tidur juga sama tƌk baiknya.

Terlalu banyak makan dapat menimbulkan berbagai persoalan, mulai dari obesitas sampai permasalahan kesehatan lainnya.

Bagaimana dengan bekerja ? Mencari nafkah bagi keluarga ? Melaksanakan tugas negara ?
Pastinya ada alasan mengapa hampir disemua belahan bumi ini jam bekerja per hari rata-rata adalah 8-9 jam. Ketika dua atau tiga kali dalam satu bulan anda bekerja lembur kemungkinan tubuh masih dapat bertoleransi, karena masih cukup waktu untuk recovery bagi tubuh. Namun bagaimana jika anda lembur setiap malam ?

Mungkin anda masih muda dan merasa kuat karena sudah terbiasa tidur larut malam, namun bagaimana dengan tubuh anda? Jika kita analogikan sebuah mobil yang sama-sama berumur 5 tahun, yang satu telah menempuh 200 ribu Km dan yang satu baru 50 ribu Km, kira-kira mana yang akan anda beli ? Kenapa ?

Berbicara umur memang itu hak mutlak Allah, namun sebagai manusia kita berkewajiban memelihara kualitas hidup.

Pada awal mulanya anda saking sayang kepada keluarga, ingin extra income lalu anda tiap malam overtime, apa tidak mungkin justru hal itu membuat kelak di usia anda yang masih produktif tubuh anda sudah terlalu lelah untuk bekerja dan keluarga anda harus mendapati anda early retire ?

Pada awalnya anda saking cintanya pada negara, selalu bekerja extra setiap malam, apa tidak mungkin hal itu justru akan membuat negara lebih cepat kehilangan seseorang yang memiliki dedikasi, loyalitas dan talenta luar biasa seperti anda ?

Saya mengerti, tidak ada orang yang ingin lembur sampai larut apalagi setiap hari, kalau boleh memilih lebih baik dirumah bersama keluarga kan ?

Namun setidaknya, jika kelak anda menjadi atasan, seseorang yang memiliki kendali, semoga hal ini dapat menjadi salah satu pertimbangan dalam menentukan kebijakan.

*with ℓove for a better future*

0

“Dibatas Senja”

Beberapa minggu ini Alya merasa sangat sedih melihat kondisi kakaknya yang sakit keras, dokter mendiagnosa adanya pembengkakan pada jantungnya yang disebabkan oleh suatu penyumbatan, kini dinding jantungnya menipis, sementara darah tergenang di dalam jantung dan tidak dapat dipompakan dengan sempurna, kedua kakinya bengkak dan terkadang cairan bening keluar dari kakinya ketika elastisitas kulit sudah tidak lagi dapat menampungnya, belum lagi sesak nafas yang menyiksanya ketika serangan datang.

Istrinya telah lebih dahulu pergi karena penyakit diabetes yang dideritanya, kedua anaknya belum dewasa, masih membutuhkan banyak perhatian dan biaya.

Pikiran Alya terfokus pada kakak dan kedua anaknya tersebut, setiap hari Alya tidak dapat berhenti memikirkannya, tak jarang Alya berandai dirinya seorang kaya raya yang dapat memasukan kakaknya ke rumah sakit termahal dengan perawatan tercanggih agar dapat menyelamatkan nyawa kakaknya tersebut, namun apa benar uang dan teknologi dapat mencegah kematian seseorang jika memang ajalnya telah tiba? Dan apa iya ajalnya lebih dekat daripada ajalnya Alya sendiri?

Suatu malam, sebuah pesawat boeing 737-800  yang ditumpangi Alya bergoncang hebat, seolah berjuang melawan gravitasi dan panas permukaan bumi, cahaya kilat menyambar gelap malam bersahutan terlihat dibalik jendela kaca burung besi berkapasitas 250 orang tersebut. Setiap orang terlihat memejamkan mata dengan gerakan mulut seperti berdoa, bahkan Wahyu teman Alya dan beberapa orang lainnya telah siap dengan headsetnya hendak memutar film pada perangkat audio visual yang tersedia disetiap kursi penumpang  mendadak mengalihkan tekanan jarinya pada layar sentuh itu tepat pada doa-doa bukan pada tujuan semula yaitu film action.

Pengalaman yang dilaluinya malam itu membuat Alya tersadar bahwa betapa tipisnya batas antara kehidupan dan kematian, semua orang tidak pernah ada yang tahu kapan akan mendapat giliran dijemput maut dan itu berlaku tanpa pengecualian termasuk dirinya.

Ketika seseorang mengidap penyakit serius, berjuang melawan kanker stadium lanjut atau lain sebagainya, tidak lantas membuat dinding pemisah antara kehidupan dan kematian buat mereka menjadi lebih tipis daripada kita yang saat ini sehat walafiat. Mungkin dalam perhitungan ilmu medis ataupun statistik, mereka memiliki probabilitas lebih tinggi untuk meninggal dari pada orang yang sehat, namun siapa diantara kita yang berani mengatakan bahwa dirinya yakin 100% akan hidup lebih lama dibanding ia yang tengah terbaring kritis di ruang ICU ? Siapa yang berani mengatakan bahwa tidak ada kemungkinan sama sekali bagi dirinya untuk meninggal lebih dulu daripada kedua orangtua atau gurunya? Sakit hanyalah satu jalan saja, masih banyak jalan lain bagi ajal untuk menghampiri kita jika memang telah tiba waktunya, umur dan status kesehatan seseorang bukanlah patokan, tidak ada yang tidak mungkin.

Alya baru menyadari jika selama ini banyak hal sia-sia yang dilakukannya. Banyak waktu, pikiran dan emosi yang tersita untuk hal yang sebenarnyalah tidak penting.

Alya merasa sangat beruntung bahwa dirinya masih diberikan kesempatan untuk hidup, merasa seperti diberikan kesempatan kedua, ia berjanji pada dirinya sendiri akan menjalani kehidupan yang singkat ini dengan penuh kebahagiaan, rasa syukur dan kebijaksanaan lebih.

Semenjak itu Alya tƌk henti-hentinya mengingatkan dirinya sendiri “Janganlah berjalan di muka bumi ini dengan angkuh dan lalai ketika sehat, janganlah terpuruk, meratap, berduka terlalu dalam atau mengasihani diri manakala nestapa melanda dan jangan pula lupa diri ketika bahagia menyapa “, kemudian “Jangan pernah terlalu khawatir dengan masa depanmu dan orang-orang sekelilingmu, ada hal-hal diluar kendali kita sebagai manusia, jangan khawatir semua telah difasilitasi-Nya, yakinlah setiap nyawa dilengkapi dengan rizkinya, just do the best what you can do today! Dan satu hal jangan dilupakan, mulailah berkemas, siapkan perbekalan karena kita tidak pernah tahu kapan akan dijemput”.