“Menang Jadi Arang, Kalah Jadi Abu”

Kami berdelapan berkumpul dikelas seusai mata pelajaran terakhir disampaikan, kemudian a lady yang selalu tampil dengan pakaian yang apik dan menarik, seseorang yang sukar untuk ditebak usianya tiada lain koordinator dan sekaligus interpreter yang bernama Kuniko Maki berkata “Anda sekalian boleh memilih apakah akan mengunjungi Museum Hiroshima atau sebuah temple yang asri di sekitar tempat kunjungan wajib nanti, hanya saya ingatkan bahwa jadwal kita sangat padat, jika anda memilih hiroshima maka persiapkan fisik anda karena saya yakin ini akan menjadi a hectic tour“.

Mulai kita berdiskusi membahas untung rugi dari kedua tempat tersebut, sebenarnya saya pribadi tidak bermasalah dengan perjalanan yang melelahkan karena di Indonesia pun sangat sering mengikuti perjalanan yang sebenarnya lebih parah capenya jika dibandingkan dengan  hectic tour-nya orang Jepang, namun 2 orang diantara kami berseteru, the brazilian menginginkan museum sementara the ugandan menginginkan temple. Dua orang mianmar yang sangat jarang terdengar suaranya terlihat tidak ambil pusing apapun yang dipilih, jadi keputusan ada di pihak indonesian yang notabene ada 4 kepala, akhirnya kami berempat berembug dan memutuskan Hiroshima, meski saya bukan orang yang mengerti sejarah tetapi saya sadar bahwa kesempatan untuk dapat mengunjungi tempat itu bukanlah kesempatan yang mudah terutama dalam hidup saya pribadi khususnya.

Hiroshima Peace Memorial Museum terletak di Hiroshima Memorial Park, Kota Hiroshima, Jepang, bangunan ini didirikan pada tahun 1955 untuk memperingati momen yang amat sangat pahit bagi orang Jepang.

Waktu itu perang dunia ke-II tengah berkecambuk, AS berada dibawah kepemimpinan Presiden Harry S. Truman. Sebuah pesawat terbang B-29 diperintahkan untuk bertolak dari pangkalan militer AS di Filipina, menuju Jepang. Pesawat tersebut kemudian melayang-layang di atas kota Hiroshima.  Waktu itu tepatnya tanggal 6 Agustus 1945 pukul 8.15 pagi waktu setempat, sebuah bom atom dilepaskan dari pesawat tersebut tepat diatas sebuah rumah sakit, bayangkan saja “diatas sebuah rumah sakit”, seperti apa keriuhan yang terjadi kala itu. Tak hanya rumah sakit tersebut tentunya, seluruh kota Hiroshima lebur. Dalam radius tiga kilometer dari pusat ledakan, tak ada sesuatu yang bisa diselamatkan.

Dikabarkan hampir 100 ribu orang meregang nyawa saat itu, belum lagi kematian, penyakit dan cacat yang mengikuti paska ledakan. Ini adalah sebuah pemusnahan massal spontan pertama yang pernah terjadi di muka Bumi.

Hiroshima dipilih menjadi target sasaran oleh AS kala itu dikarenakan Kota Hiroshima merupakan salah satu markas militer Jepang dan kota pelabuhan yang strategis.

Warga Jepang tidak akan pernah lupa peristiwa ini, bagaimana bom meluluhlantakan kota mereka, bagaimana senjata nuklir penghancur masa merenggut saudara dan handai taulan yang mereka cintai,  juga menyebabkan berbagai efek radiasi yang berkepanjangan.

Diatas adalah foto saya tengah menandatangani buku tamu alias “I was here”  .  Ketika mengetahui saya berasal dari Indonesia, petugas memperlihatkan buku tamu lama yang tersimpan rapi menunjukan beberapa orang nomor 1 dan beberapa orang penting lainnya dari Indonesia yang pernah berkunjung ke tempat ini, ditengah kegetiran yang baru kami rasakan setelah mengikuti tour dalam museum tersebut menyeruak rasa syukur tak terhingga karena saya berkesempatan mengunjungi tempat ini.

Bangunan Museum ini sangat modern, luas dan dilengkapi berbagai diorama, foto-foto serta barang-barang yang tersisa beserta cerita dibalik benda-benda tersebut. Setiap pengunjung dilengkapi dengan bahan bacaan dan headset yang bisa didengarkan dalam berbagai bahasa, situasinya seolah menggiring kita balik ke masa 65 tahun silam. Merinding rasanya bila membayangkan bagaimana hal sekeji tersebut dapat terjadi, seperti apa pikiran dan perasaan awak pesawat B-29 tersebut ketika menjatuhkan sebuah atomic bomb diatas sebuah rumah sakit dengan segala kefahaman atas seluruh konsekuensinya, apakah nurani menghilang ketika berbicara Loyalitas? Patriotisme? Bela Negara?

Entahlah, saya berusaha untuk tidak menghakimi, saya tidak faham betul mengenai latar belakang yang menyulut terjadinya peperangan tersebut, namun yang pasti saya tahu perang seperti kata pepatah “menang jadi arang kalah jadi abu”.

Diatas adalah foto kami berdelapan plus Profesor Hirosi Kanagwa yang merupakan our leader program di depan bangunan yang konon merupakan titik tepat bom dijatuhkan.

Nah, disebelah kanan merupakan hasil jepretan saya yang paling saya  suka, saat itu Maki-san tengah menjelaskan tentang bagaimana ledakan terjadi, Nila, Albert dan Sari sangat serius mendengarkan penjelasan Maki-san, coba kalau saya yang ada disitu pasti “tetep” sadar kamera seserius apapun pastinya :p .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s