“People Do Judge a Book by it’s Cover”

Sering sekali kita mendengar pepatah yang satu ini “Don’t Judge a Book By It’s Cover” , sebuah pepatah yang sangat mudah untuk diucapkan dan tidak sulit pula untuk memahami maknanya, namun bagaimana dengan menerapkanya kedalam kehidupan nyata? sepertinya harus kita akui bahwa hal tersebut tidaklah mudah apalagi di era globalisasi seperti sekarang ini, dimana arus informasi begitu derasnya masuk kedalam kehidupan kita sehari-hari, baik melalui media cetak ataupun media elektronik.
Setiap saat media menjejali kita dengan berbagai informasi. Harus kita sadari, teknologi memiliki dua sisi, begitu pula dengan teknologi informasi dan penyiaran, tidak semua yang disajikan media akan berdampak positif bagi kita seperti meningkatnya pengetahuan dan wawasan terhadap berbagai hal dengan cepat, namun jika kita cermati lebih jauh ada hal lain yang menyertai. Lihatlah sinetron yang ditayangkan beberapa stasiun televisi, iklan produk-produk tertentu dan tayangan lainnya.

Jarang sekali sinema elektronik tersebut menampilkan realita kehidupan yang sebenarnya, kebanyakan dari mereka hanya menggambarkan kehidupan yang mewah dan glamor. Kemudian yang paling miris adalah melihat sinetron anak sekolah yang tentunya kebanyak dari penontonnya adalah anak sekolah, menampilkan anak-anak sekolah yang tidak lagi santun mengekspresikan ketidaksetujuan ataupun ketidaksenangannya terhadap orang tua, guru maupun teman sebayanya, dan celakanya seolah hal tersebut sesuatu yang termaklumi. Sangat tidak mendidik jika ditonton oleh anak, karena anak tidak sama dengan kita orang dewasa, sangat mudah untuk terpengaruh, masih banyak space di memorinya, bank data yang dimilikinya belum cukup untuk dapat membuat kesimpulan antara baik dan buruk dengan sempurna.

Lihatlah bagaimana iklan berbagai produk bersaing memasarkan produknya. Majalah, TV, internet, surat kabar, baligo, pamplet sampai dengan giant screen yang kini banyak hadir di kota-kota besar menampilkan iklan-iklan tersebut. Tanpa disadari hal tersebut sebenarnya telah membentuk “image” bagaimana seharusnya seseorang “terlihat”. Coba perhatikan iklan krim muka atau hand body lotion, mereka seolah mengajarkan kita bahwa yang berkulit putih “lebih baik” dari yang berkulit hitam, iklan produk diet dan olah raga mengajarkan kita bahwa yang kurus “lebih baik” dari yang berbadan besar, iklan kendaraan mengajarkan kita semakin bagus kendaraannya itu yang “lebih baik” dan banyak lagi. Bayangkan saja berulang–ulang semua itu kita baca dan tonton, sedikit banyak hal itu akan berpengaruh terhadap penilaian kita baik terhadap diri sendiri maupun orang lain.

Kita jadi terlalu mudah menilai orang, terkadang memandang orang hanya dari luarnya saja, tanpa terlebih dahulu berusaha mengetahui apa yang ada di dalam. Coba perhatikan, orang biasanya akan terlihat lebih menghargai dan menghormati orang lain yang nampak lebih mirip dengan yang digambarkan iklan-iklan ketimbang yang biasa-biasa saja, entah dengan tampilan fisiknya, yang mereka kenakan ataupun yang mereka kendarai.

Seperti halnya Mela teman saya, ketika saya menanyakan apakah dia mengenal Aldo seorang anak petinggi, berwajah rupawan, berbadan tegap dan bermobil mewah, Mela menjawab dengan nada penuh kebanggaan bahwa dia sangat sangat mengenal Aldo, berbeda halnya ketika saya bertanya “Mel, aku tadi se-angkot sama temen se-ruangan-mu, Hendra namanya, bener ya temen seruangan-mu?” Mela menjawab dengan suara yang tidak mengandung semangat “iya temen seruangan” titik (hadeuww.. Mela Mela…..).

Bahkan dalam perjalanan menuju kantor siang tadi  saya mendengar celotehan anak-anak sekolah “don’t judge a book by its cover teh ceuk nu goreng” ya ampuuuun… (asal inspirasi judul).

Semenjak 2 bulan yang lalu mendapatkan giliran rolling, ditempatkan di sebuah kota kecil jauh dari ibu kota, menggantikan teman saya yang pergi menunaikan ibadah haji. Seperti biasa, ritual dipagi hari sehabis mandi, mengenakan pakaian kerja, catok rambut, toner, krim, tabir surya, bedak, maskara dan lipstik. Sesampainya di kantor, rupanya disini berbeda, hanya saya yang berbedak dan berlipstik. Lama-kelamaan saya pun mulai mengerti bahwa disini orang tidak melihat penampilan, lebih pada kemampuan dan kepribadian. Akhirnya setiap pagi saya pun hanya mengenakan sun block, ternyata itu lebih menyenangkan, jadi punya lebih banyak waktu yang bisa digunakan untuk membuat sarapan atau bloging.

Pada hari kemarin saya kembali ke ibu kota setelah sekian lama, lalu apa yang terjadi ? dalam satu hari saya menerima lebih dari 7 keluhan dari teman-teman yang bertemu dengan saya (heuheu..), ada yang tentang sepatu saya, rambut saya, baju saya dan muka saya. Bagaimana tidak, malam sebelumnya saya tidur kurang dari 3 jam karena harus mengerjakan PR, berangkat jam 3 pagi karena mengejar tepat waktu meeting, tanpa mobil dimana sepatu, baju dan alat mandi saya berada.

Meskipun demikian, sama sekali tidak terganggu, saya bisa cantik di saat saya harus cantik, saya bisa bau di saat saya harus bau, saya bisa kotor di saat saya harus kotor. And most important of all, I know that no matter how I look, my friends will always be my friends, they just love to tease me, heuheu…

Pesan sponsor, jangan menjalani hidup dengan menggunakan standar yang ditetapkan oleh orang lain, jangan menilai bahagia dengan standar bahagianya orang lain.

Never try hard to impressed others, bacause how others see you is not important, how you see yourself mean everything ..

____________________________________________________________________________

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s